KESULITAN BELAJAR

A. Sebab-sebab Terjadinya Kesulitan Belajar

Penyebab timbulnya ketidakberesan dalam belajar memang banyak dan beragam. Kiranya penyebab itu dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu yang ada dalam diri anak yang belajar, dan yang ada di luar anak yang belajar.

Adapun faktor-faktor kesulitan belajar anak antara lain :

  1. Faktor Internal Siswa (Dalam diri anak)

Faktor ini dipengaruhi oleh keadaan diri siswa itu sendiri, meliputi kemampuan intelektual, faktor afektif seperti perasaan dan percaya diri, motivasi kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, latar belakang sosial, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, kemampuan panca indera, labilnya emosi dan sikap.

  1. Faktor Internal Siswa (dari luar anak)

Faktor eksternal yang menjadi penyebabnya terdiri dari tiga bagian, yaitu :

2.1 Lingkungan keluarga, contoh : ketidakharmonisan dalam keluarga dan rendahnya ekonomi keluarga

2.2 Lingkungan tempat tinggal anak, seperti lingkungan kumuh dan teman sepermainannya nakal

2.3 Lingkungan sekolah, yakni kondisi dan letak bangunan sekolah yang buruk (dekat pasar, keramaian lainnya), kondisi guru, serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

Sesuai dengan faktor-faktor di atas, tidak berhasilnya belajar yang dicapai oleh anak dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya :

  1. Rendahnya kemampuan intelektual anak
  2. Gangguan perasaan/emosi
  3. Kurangnya motivasi untuk belajar
  4. Kurang matangnya anak untuk belajar
  5. Usia yang terlampau muda
  6. Latar belakang sosial yang tidak menunjang
  7. Kebiasaan belajar yang kurang baik
  8. Kemapuan mengingat yang rendah
  9. Terganggunya alat-alat indera
  10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
  11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar

B. Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar

Diagnosis berarti proses pemeriksaan terhadap sesuatu gejala yang tidak beres. Dengan demikian, diagnosis kesulitan belajar dilakukan apabila guru menandai atau mengidentifikasi adanya kesulitan belajar pada muridnya. Oleh karena itu agar diagnosis belajar berlangsung secara sistematis, langkah-langkah diagnosis harus dipahami. Langkah-langkah tersebut adalah ;

  1. Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar
  2. Menelaah atau menetapkan status siswa
  3. Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar

1. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar

Gejala-gejala munculnya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, salahsatu di antaranya dapat terlihat dari perubahan perilaku yang menyimpang seperti sering mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, dan sering bolos. Gejala lainnya juga dapat dilihat dari menurunnya hasil belajar yang dapat dilihat dari hasil latihan

Menurunya hasil belajar siswa merupakan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar. Alam kehidupan persekolahan tidak jarang terjadi seorang murid tinggal kelas berkali-kali tanpa dapat perhatian dari guru, hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan guru menandai adanya kesulitan belajar atau guru tidak mau melaksanakan tugasnya.

2. Menelaah/Menetapkan Status Siswa

Penelaahan dan penetapan status murid dilakukan dengan cara menempuh :

a. Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan oleh murid

b. Meningkatkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebut oleh murid yang bersangkutan dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat.

c. Menetapkan pola pencapaian murid yaitu seberapa jauh berbeda dari tujuan yang ditetapkan itu.

Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan dicapai oleh murid dapat dilakukan guru dengan berbagai cara, antara lain dengan menjabarkan secara lebih rinci tujuan-tujuan intelektual yang ada dalam GBPP dan menyusun rincian tentang perilaku tertentu yang harus ditunjukkan murid dengan berpedoman pada tugas-tugas perkembangan atau norma-norma yang berlakudi daerah tersebut.

Contoh :

1. Murid di kelas I Cawu I diharapkan dapat menempelkan kartu-kartu kalimat dibawah gambar-gambar yang tepat.

2. Dalam Matematika murid kelas II diharapkan dapat menyelesaikan 10 soal latihan penjumlahan sederhana dalam waktu 20 menit dengan 80 % benar.

3. Jika bertemu dengan guru, murid mau memberi salam dengan sikap yang sopan.

4. Kalau memasuki ruangan guru, murid terlebih dulu mengetuk pintu dan menunggu sampai diizinkan masuk.

5. dalam Tes Sumatif, murid dapat mengerjakan soal dengan 75 % benar.

Langkah kedua yaitu meningkatkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebutoleh siswa dengan menggunakan tekniok dan alat penilaian yang akan digunakan. Nama alat tersebut dikenal dengan nama alat diagnosis.

Di Amerika sebab-sebab kesulitan belajar diungkapkan melalui beberapa tahap berikut :

a. Mengadakan observasi kelas, untuk perilaku yang menyimpang dari anak dalam mengikuti kegiatan akademis.

b. Pemeriksaan penglihatan dan pendengaran yang ditandai kesulitan akademis.

c. Wawancara dengan orangtua murid untuk mengetahui hal-hal dalam keluarga yang mungkin mempengaruhi pencapaian akademis.

d. Memberikan tes kemampuan umum untuk mengetahui kemampuan intelektual (18) murid.

e. Memberi tes diagnosis dalam bidang keterampilan akademis tertentu untuk melihat hakikat masalah yang dihadapi murid

3. Memperkirakan Sebab Kesulitan Belajar

Gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang berbeda. Keadaan ini sering menyesakan guru dalam memperkirakan penyebab suatu kesulitan belajar. Misalnya kesulitan dalam membaca dapat disebabkan oleh terganggunya penglihatan seorang murid, dapat juga disebabkan oleh kemampuan mureid yang rendah dalam mengingat bentuk huruf, atau kemampuan kognitifnya yang rendah untuk menangkap dan menghubungkan lambang secara serentak.

Agar perkiraan tentang penyebab kesulitan belajar menjadi lebih terarah dan sistematis, langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Berdasarkan informasi yang tersedia yang dikumpulkan dalam tahap penelaahan dan penetapan status. Guru menyusun berbagai sebab yang mungkin dari kesulitan belajar anak tersebut, misalnya pada kasus Siti, penyebab yang mungkin adalah kurang fahamnya Siti paa konsep perkalian, kurang dikuasainya konsep penjumlahan, kelelahan, dan kurang latihan.

b. Setelah sejumlah sebab diidentifikasi oleh guru, guru menelaah setipa sebab dan memlilih sebab-sebab yang paling mendekati kenyataan. Pemilihan ini dapat pula dilakukan dengan membuang “sebab” yang kelihatan kurang tepat, sehingga “tinggal sebab” yang paling mendekati ketepatan, misalnya : kelelahan yang tidak sesuai dengan keadaan fisik, kurang terkuasainya konsep perjumlahan dan perkalian, kebenarannya diteliti melalui latihan, kurangnya latihan.

c. Setelah menelaah dan memilih sebab-sebab tersebut, maka guru menarik kesimpulan dari hasil penelaahan tersebut, misalnya penyebab yang diperkirakan paling tepat adalah kurang terkuasainya konsep dasar perkalian serta kurangnya latihan.

Keuntungan yang didapat dari cara ini adalah guru terhindar dari pengabaran atau ketidakpedulian terhadap penyebab yang duianggap sepele/tidak berrati, padahal mungkin penyebab itu merupakan penyebab utama.

C. Alternatif Pemecahan Kualitas Belajar

1. Analisis Hasil Diagnosis Kesulitan Belajar

Data dan inforamsi yang diperoleh guru melalui diagnosis kesulitan belajar tadi perlu analisis sedemikian mungkin, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.

Contoh : Badu mengalami kesulitan khusus dalam mengalami konsep kata polisemi. Polisemi adalah sebuah istilah yang menunjuk kata yang memiliki dua makna atau lebih, kata “turun” umpamanya dapat dipakai frase seperti turun harga, turun ranjang, turun tangga, dan seterusnya. Contoh sebaliknya kata “naik” yang juga dapat dipakai dalam frase seperti naik daun, naik banding, dan sebagainya.

Tes diagnosis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Tes ini memusatkan diri pada pencapaian tujuan dalam bidang yang akan di diagnosis.

b. Memuat perincian nilai(skor) yang lebih luas untuk setiap bagiantes, dengan demikian mengandung butir tes yang lebih banyak untuk mengetes setiap kemampuan.

c. Butir-butir tes disusun berdasarkan analisis yang cermat tentang keterampilan khusus yang berperan dalam keberhasilan belajar dan suatu studi tentang kesalahan yang umum dibuat oleh para murid.

d. Agar pencapaian murid yang mengalami kesulitan belajar dapat diukur dengan cermat, maka tingkat kesukaran diagnosis pada umumnya rendah. Selanjutnya disebutkan bahwa tes diagnosis yang baik berfokus pada bidang masalah yang potensial dan merinci jenis-jenis kesalahan khusus yang dibuat oleh murid.

Untuk menyusun tes diagnosis yang memenuhi keperluan anda, ikuti petunjuk berikut ini :

1. Tentukan tujuan khusus yang harus dicapai murid dengan cermat

2. Tentukan tahap-tahap yang harus dilalui murid dalam mencapai tujuan khusus tersebut.

3. Susun butir tes untuk mengukur tingkat pencapaian murid pada setiap tahap

2. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah

Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan.

Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikatagorikan menjadi 3 macam :

a. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.

b. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri dengan bantuan orang tua

c. Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani, baik oleh guru maupun orang tua.

Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani oleh guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus-kasus Tuna Grahita (lemah mental) dan kecenderungan narkotika. Mereka yang bermaalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskiled people) karena mereka tidak hanya memerlukan pendidikan khsusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.

3. Menyusun Program Perbaikan

Dalam hal menyusun program pengutaraan perbaikan (remidial teaching), sebelumnya perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :

a.Tujuan pengajaran remidial

b. Materi pengajaran remidial

c.Metode pengajaran remidial

d. Alokasi waktu pengajaran remidial

e.Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remidial

Agar lebih jelas pada sebuah contoh program pengajaran remidial yang sengaja dikaitkan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa.

Contoh :

Program Pengajaran Remidial

Nama : Badu

Kelas : II A2 SMA “XY “ Bandung

Jenis Kesulitan : memahami kata-kata poli semi dalam bahasa

Khusus : Indonesia

Tujuan remidial : Badu dapat memahami kata-kata naik dan turun

Materi remidial : 1. Sebuah seri gambar yang terdiri atas a) gambar

Yang mempergerakkan arti kata “naik” b) gambar

Yang mempergerakkan arti kata “turun” c) gambar

2. Sebuah seri kartu kata yang terdiri atas

a) kartu kata “naik”

b) kartu kata “turun”

3. Tuga buah cerita pendek yang masing-masing mengandung kalimat-kalimat yang menggunakan kata “turun”, “naik”.

Alokasi waktu : 45 menit

Evaluasi remidial : Menggunakan intermen tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus disempurnakan dengan menggunakan kata naik, dan kata turun.

4. Melaksanakan Program Perbaikan

Pada prinsipnya program pengajaran remidial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraan bisa dimana saja asal tempat itu memungkinkan siswa mengkonsentrasikan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut.

Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif kiat pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimibingan dan penyuluhan. Setelah itu guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu.

D. Metode Perbaikan Belajar Mengajar

Pada umumnya kita mengenal 2 jenis program perbaikan belajar mengajar, yang pertama program penyembuhan atau pengajaran remidial yang diediakan bagi murid yang mengalami kesulitan belajar. Yang kedua berupa program pengayaan bagi anak berbakat. Program pengayaan dilakukan dengan memberikan kegiatan tambahan yang biasanya tidak tersedia dalam program biasa. Program pengayaan dapat berbentuk memberikan tugas tambaan misal bagi anak yang berbakat dalam IPA disediakan sumber-sumber yang memungkinkan ia belajar IPA lebih jauh, membantu teman yang mendapat kesukaran.

Pada umumnya program penyembuhan atau remidial tidak jauh berbeda dari metode yang berlaku dalam kegiiatan belajar mengajar biasa, Cuma tekanan dan pelaksanaanya yang berbeda sesuai dengan masalah atau kesulitan yang ingin disembuhkan.

Metode yang digunakan dalam perbaikan belajar mengajar mempunyai ciri khusus sebagai berikut :

1. Memanfaatkan latihan khusus seperti latihan membaca kata-kata tertentu, mengerjakan soal-soal yang sudah dirancang.

2. Menekankan pada pemanfaatan segi-segi kemampuan yang kuat, misalnya anak yang tidak dapat memahami pelajaran IPS, melalui informasi lisan belajar, melalui gambar-gambar dengan materi yang sama karena daya pemahamannya melalui penglihatan cukup baik.

3. Menekankan pada penggunaan multi-sensor, dalam hal ini guru menyajikan pelajaran dengan menggunakan berbagai alat peraga, sehingga murid dapat melihat, mendengar, merasakan atau meraba materi yang sedang dibahas.

4. Memanfaatkan permainan sebagai alat belajar, misal untuk menghapalkan serangkaian fakta, guru mengajak murid melakukan permainan tebak-tebakan atau menyusun kata, atau singkatan yang menarik sebagai hafalan.

Yang perlu diingat oleh guru adalah bahwa dalam program perbaikan belajar mengajar guru tidak mungkin menggunakan metode ceramah, diskusi, penemuan atau metode lainnya sama seperti menggunakannya pada kegiatan belajar mengajar biasa. Suatu perubahan dapat dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan murid yamg mengalami kesulitan. Akhirnya perlu dicatat bahwa bahwa metode hanya merupakan salahsatu cara melakukan sesuatu

E. Menilai Perbaikan Belajar mengajar

Penilaian dilakukan dengan cara mengkaji setiap komponen program. Cara yang paling tepat mungkin melalui dari mengkaji hasil perbaikan yang dapat dilihat dari penilaian kemajuan siswa. Jika hasil perbaikan ini cukup memuaskan, dapat dianggap bahwa program perbaikan yang kita rencanakan dan laksanakan telah cukup efektif untuk mengatasi kesulitan belajar murid.

Namun jika hasil yang diharapkan tidak sesuai dalam arti kesulitan belajar tidak teratasi, kita harus meninjau keseluruhan program perbaikan dengan menganalisis setiap komponennya, sehingga tergambar “penyebab” kegagalan program tersebut. Untuk melakukan hal ini kita perlu melakukan penelaahan sebagai berikut :

1. Kemajuan murid : Berapa % kemajuan yang dicapai dan dalam hal apa saja.

2. Waktu : Apakah waktu perbaikan cukup atau kurang

3. Cara Penyampaian : a. Apakah sesuai dengan kemampuan murid ?

b. Jika ya, bagian mana yang sesuai, dan bagian mana yang tidak mendapat respon murid.

4. Materi : a. Apakah materi terlalu sukar bagi murid ?

b. Jika ya, apakah ada persyaratan yang terlupakan atau yang belum dikuasai murid ?

c. Persyaratan atau konsep lebih awal mana yang terlupakan ?

5. Tujuan : a. Apakah tujuan yang kita rumuskan terlalu tinggi bagi murid ?

b. Jika ya, adakah penguasaan awal yan terlupakan?

c. Penguasaan awal yang mana itu ?

6. Pelaksanaan : a. Apakah pelaksanaan sesuai dengan rencana ?

b. Kalau ada perubahan bagian mana saja yang dirubah ?

c. Mengapa perubahan itu diadakan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s