BELAJAR

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang berproses serta merupakan suatu unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Maka dengan hal ini para ahli membuat beberapa definisi tentang belajar yang berbeda karena dlilihat dari sudut pandangnya.

Berikut ini beberapa pendapat tentang belajar :

1. Skinner dalam Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: “The Teaching Learning Process” mengatakan bahwa Belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progressif.

2. Chaplin (1973) dalam Dictionary Psychology membatasi belajar dengan dua macam :

a. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

b. Belajar adalah proses memperoleh “respon” sebagai akibat adanya latihan khusus.

3. Hintzman (1987) dalam bukunya “The Psychology of Learning and Memory” berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada diri organisme, baik pada diri manusia maupun pada hewan yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

4. Wittig (1981) dalam bukunya “ Psychology of Learning” mengatakan : Belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai suatu hasil.

5. Reber (1989) dalam “Dictionary of Psychology”, Menurutnya ada dua definisi tentang belajar, yaitu :

a. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan.

b. Belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.

Dengan hal tersebut, proses belajar meliputi :

a. Perubahan yang secara umum menetap (Response permanent)

b. Kemampuan bereaksi (Response Potentially)

c. Dapat diperkuat (Reinforced)

d. Melalui Praktek dan Latihan (Practice)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan dalam Belajar

Salah satu tujuan dalam belajar adalah adanya perubahan tingkah laku. Tetapi dalam hal ini banyak yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar terbagi dua, yaitu :

a. Faktor Intern Belajar

Faktor intern belajar adalah faktor yang timbul dari dalam individu sendiri, hal ini antara lain kematangan, kecerdasan, motivasi dan minat belajar.

b. Faktor Ekstern Belajar

Faktor ekstern sangat erat kaitannya dengan lingkungan individu yang bersangkutan, di antaranya keadaan lingkungan keluarga, lingkungan sosial, guru serta fasilitas belajar.

Sesuai dengan faktor-faktor di atas, maka kekurangstabilan dalam belajar yang ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya :

1. Rendahnya kemampuan intelektual anak

2. Gangguan perasaan atau emosi

3. Kurangnya motivasi untuk belajar

4. Kurang matangnya anak untuk belajar

5. Usia yang terlampau muda

6. Latar belakang sosial yang tidak menunjang

7. Kebiasaan belajar yang kurang baik

8. Kemampuan mengingat yang rendah

9. Terganggunya alat-alat indera

10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai

11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.

a.1 Faktor Intern

Kematangan

Sehubungan dengan usianya yang belum matang, maka sangatlah sulit untuk mengajarkan konsep ilmu filsafat kepada siswa Sekolah Dasar. Dengan hal ini pemberian materi akan tercapai apabila sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani siswa.

Kecerdasan

Keberhasilan suatu individu mempelajari berbagai pengetahuan ditentukan pula oleh tingkat kecerdasannya.

Motivasi

Motivasi merupakan dorongan untuk mengerjakan sesuatu. Dengan adanya motivasi yang datang dari individu tersebut maka akan tercipta keberhasilan belajar.

Minat

Minat belajar dalam individu merupakan faktor yang sangat dominan dalam kegiatan belajar, karena apabila tidak ada minat yang tumbuh untuk belajar, maka pelajaran yang diterimanya akan menghasilkan ketidaksempurnaan.

b.1 Faktor Ekstern

Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga sangatlah menentukan keberhasilan belajar. Status ekonomi, status sosial dan lingkungan keluarga ikut berperan dalam keberhasilan proses belajar. Suasana keluarga yang tentram akan menciptakan keharmonisan keluarga. Maka dengan keharmonisan ini anak cenderung lebih giat dalam belajar.

Lingkungan Masyarakat

Peran masyarakat sangatlah mempengaruhi dalam kegiatan belajar. Hal-hal yang menyimpang dari lingkungan masyarakat akan mudah terserap oleh individu. Dengan hal ini siswa akan membandingkan pengalaman yang ia peroleh di lingkungan sekolah dengan pengalaman yang ia dapatkan di lingkungan masyarakat.

Guru

Peran guru sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dan kepribadian guru sangat menentukan dalam keberhasilan belajar karena guru adalah sebagai motivator, sebagai fasilitator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan selama proses pendidikan berlangsung.

Bentuk Alat Pelajaran

Bentuk alat pelajaran bisa berupa buku-buku pelajaran, alat peraga, alat-alat tulis dan lain-lain. Hal tersebut sangat berperan dalam proses belajar, karena proses belajar sangatlah ditunjang dengan alat-alat pelajaran.

Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar dewasa ini sedang diupayakan oleh Pemerintah melalui Program Wajib Belajar Pendidikan 9 tahun yang mulai dicanangkan tahun pelajaran 1994/1995. Pencanangan program Wajib Belajar ini merupakan alternatif Pemerintah dalam memberikan kesempatan kepada para siswa terutama bagi mereka yang orang tuanya berekonomi lemah/kurang mampu.

Cara Mengatasi Kesulitan dalam Proses Belajar

Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Di bawah ini adalah langkah-langkah dalam mengatasi kesulitan belajar.

1. Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar

2. Menelaah/menetapkan status siswa

3. Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar.

1. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar

Mengidentifikasi atau menandai munculnya kesulitan belajar memerlukan keterampilan khusus. Kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belaka tentu kurang efektif jika dibandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman. Dalam hal ini guru perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang tahap-tahap perkembangan anak, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan intelektual yang lain, perkembangan emosional, dan sosial serta perkembangan motorik.

2. Menelaah/Menetapkan Status Siswa

Setelah guru mengidentifikasi munculnya kesulitan belajar pada siswa, selanjutnya guru mengadakan penelitian terhadap siswa dengan jalan menelaah / menetapkan status siswa.

Penelaahan dan penetapan status siswa dilakukan dengan menempuh cara-cara sebagai berikut :

a. Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan oleh siswa.

b. Menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebut oleh siswa yang bersangkutan dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat.

c. Menetapkan pola pencapaian siswa, yaitu seberapa jauh ia berada dari tujuan yang ditetapkan itu.

3. Memperkirakan Sebab Kesulitan Belajar

Berdasarkan status siswa pada tahap II, tibalah saatnya untuk memperkirakan sebab munculnya kesulitan belajar. Dengan hal ini maka hendaklah seorang guru menyadari bahwa belajar itu adalah suatu perbuatan yang sangat kompleks yang keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang telah diuraikan tadi.

Dengan ketentuan di atas, maka di bawah ini ada beberapa alternatif dalam mengatasi kesulitan belajar.


1. OBSERVASI KELAS

Pada tahap ini observasi kelas dapat mengurangi kesulitan belajar, misalnya dengan memeriksa kondisi kelas yang dijadikan proses berlangsungnya belajar. Misalnya kondisi kelas yang nyaman dan tenang serta sehat akan memacu motivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi.

2. PEMERIKSAAN ALAT INDERA

Dalam hal ini difokuskan pada tingkat kesehatan siswa, khususnya mengenai alat indera. Diupayakan dalam waktu satu bulan sekali pihak sekolah melakukan pemeriksaan kesehatan siswa ke Puskesmas/dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula.

3. WAWANCARA

Wawancara dengan orang tua siswa sangatlah perlu dilakukan untuk mengetahui hal-hal dalam keluarga yang barangkali mempengaruhi pencapaian akademis siswa.

4. TES DIAGNOTIS KECAKAPAN

Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan intelektual (IQ) siswa. Siswa yang dianggap tergolong dalam kelompok yang mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang IQ-nya normal atau di atas normal. Sedangkan siswa yang IQ-nya rendah atau di bawah normal digolongkan pada lemah mental atau tuna grahita.

Memberikan tes diagnostik dalam bidang keterampilan akademik tertentu adalah untuk melihat hakikat masalah yang dihadapi siswa.

Uraian di atas, maka hendaklah disadari oleh para pendidik/pengajar agar tidak ada lagi kendala atau hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu, tingkat kedisiplinan yang diterapkan di sekolah dapat menunjang proses belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s