Operasi Pada Bilangan Bulat

oleh : Tatang JM.

A. Operasi Perkalian

Operasi perkalian pada suatu bilangan bulat pada hakikatnya adalah operasi penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, operasi perkalian pada bilangan bulat secara umum membutuhkan landasan pengertian operasi penjumlahan.

Kita ketahui, lambang untuk menyatakan operasi perkalian antara dua bilangan atau lebih adalah dengan tanda silang (x). Dan juga telah mengetahui bahwa bilangan bulat secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam bilangan bulat positif, nol dan bilangan bulat negatif. Dengan tanpa memasukkan nol ke dalam kelompok bilangan karena nol bukan bilangan negatif dan bukan bilangan positif, kita akan mendapatkan dua gugus (himpunan) bilangan bulat yaitu bilangan bulat positif (p) dan bilangan bulat negatif (n). Berdasarkan kedua garis bilangan tersebut, maka pasangan perkalian dua bilangan bulat tadi kemungkinannya adalah berbentuk :

( 1 ) p x p

( 2 ) p x n

( 3 ) n x p

( 4 ) n x n

Penjelasan operasi perkalian pasangan dua bilangan bulat :

1. Guru mengambil misal/contoh 6 x 4. Selanjutnya kepada murid diperkenalkan suatu batasan mengenai operasi perkalian sebagai bentuk penjumlahan berulang. Di sini tentu jawaban murid yang diharapkan adalah 6 + 6 + 6 + 6. Sebab 6 x 4 pada hakikatnya adalah menjumlahkan bilangan 6 sebanyak 4 kali.

Selain itu, prosedur perkalian dapat pula dibantu dengan memperagakan perkalian dua bilangan tadi pada suatu garis bilangan. Terhadalp perkalian 4 x 6, hal itu dapat diartikan sebagai contoh seorang pengendara sepeda yang setiap jam dapat menempuh jarak 6 km. Tanyakanlah kepada murid berapakah jarak yang dapat ditempuh setelah ia mengendarai sepede selama 4 jam. Ini artinya bila digambarkan dalam garis bilangan perkalian tersebut adalah :

· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·

-6 0 6 12 18

2. Perkalian bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, (p x n). Contohnya adalah 4 x (-2). Ini artinya dengan penjumlahan berulang untuk bentuk tersebut dapat dinyatakan dengan ( -2 ) + ( -2 ) + ( -2 ) + ( -2 ).

Untuk memberikan peragaan p x n melalui garis bilangan, maka contoh yang dapat diambil adalah dengan mengubah arah pengendara sepeda. Dalam hal ini misalnya pengendara sepeda dengan kecepatan 2 km setiap jam melaju dengan arah yang berlawanan, ini berarti perjalanan berlawanan dengan arah yang berlaku (ke kiri). Penjelasan tentang hal ini dapat diperagakan pada garis bilangan sebagai berikut :

-8

· · · · · · · · · · · · ·

-6 -4 -2 0 2 4

3. Perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif (n x p). Contohnya -3 x 4. Hal ini berarti dalam aplikasinya berupa : “Ada seorang pengendara sepeda yang dengan kecepatan mengendarai sepedanya setiap jam dapat menempuh jarak 4 km setiap jam. Maka kedudukan pengendara sepeda tersebut 3 jam sebelumnya dari keadaan sekarang berada pada jarak …….. “.

Penjelasan dengan garis bilangannya adalag sebagai berikut :

-3 -2 -1

· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·

-12 -8 -4 0 4 8

Selain prosedur di atas, terdapat cara lain untuk menunjukkan hasil kali bilangan negatif dengan bilangan positif adalah bilangan bulat negatif, yaitu dengan menyusun setiap hasil kali dari sederetan suatu bilangan dengan bilangan lain dalam suatu daftar berurut. Contoh (-3) x 4, maka mula pertama perkalian harus ditunjukkan dengan perkalian bilangan bulat positif (namun untuk ini ambil bilangan 4) dikalikan dengan 4. Kemudian bilangan positif tadi secara berurut berkurang satu demi satu hingga sampai di harga -3. Hasil perkalian kedua bilangan akan ditunjukkan dengan menurunnya hasil pada langkah di atas sebanyak 4. Ilustrasi ini dapat diperlihatkan sebagai berikut :

4 x 4 = 16

Berkurang 1 Berkurang 4

3 x 4 = 12

Berkurang 1 Berkurang 4

2 x 4 = 8

Berkurang 1 Berkurang 4

1 x 4 = 4

Berkurang 1 Berkurang 4

0 x 4 = 0

Berkurang 1 tentu untuk ini hasilpun

-1 x 4 = -4

-2 x 4 = -8 akan berkurang 4 juga

-3 x 4 = -12

4. Perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif. Misalkan (-3) x (-4). Untuk ini prosedur pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan langkah perkalian 3 x 4, kemudian diikuti dengan penurunan pada bilangan yang dikalikan. Selanjutnya setelah langkah sampai pada perkalian -3 x 4 kini tiba giliran bilangan pengali setahap demi setahap turun sampai pada bentuk ( -3 ) x ( -4 ).

Prosedur dan langkah tahapan dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut :

Langkah I

Dari 3 x 4 menuju ke bentuk -3 x 4

3 x 4 = 12

2 x 4 = 8

1 x 4 = 4

0 x 4 = 0

-1 x 4 = -4

-2 x 4 = -8

-3 x 4 = -12

Ternyata akan kita temukan bahwa -3 x 4 adalah sama dengan -12, dan ini merupakan bilangan bulat negatif.

Langkah II

Dari (-3) x 4 menuju ke bentuk (-3 x (-4) dalam hal ini bilangan yang turun adalah 4 sehingga prosedurnya menjadi :

(-3) x 4 = -12

(-3) x 3 = -9

(-3) x 2 = -6

(-3) x 1 = -3

(-3) x 1 = -3

(-3) x 0 = 0

Tanyakan kepada murid, di sini apa yang terjadi dengan hasil perkalian? Naik atau menurunkah hasilnya? Perhatikan prosedur selanjutnya :

(-3) x (-1) = +3

(-3) x (-2) = +6

(-3) x (-3) = +9

(-3) x (-4) = +12 dan seterusnya.

Dengan mengisi hasil perkalian di atas ternyata antara hasil perkalian di bawah dengan hasil perkalian di atasnya telah terjadi penambahan hasil yaitu sebesar +3. Ini tentu membawa konsekuensi yang logis bahw (-3) x (-1) tentu harus +3. Begitu pula dengan (-3) x (-2), (-3) x (-3), … dan seterusnya. Dan hasil perkalian tersebut akan menunjukkan bilangan bulat yang positif.

B. Sifat-sifat Perkalian Bilangan Bulat

Kita perlu mempelajari sifat-sifat yang berlaku pada operasi perkalian agar langkah operasi perkalian yang kita jumpai menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti. Sebagai contoh, ( 5 x 3 ) + ( 2 x 5 ) maka ia dapat menyederhanakan operasinya ke dalam bentuk 5 x (3 + 2) atau menjadi 5 x 5.

Beberapa sifat yang berlaku dalam operasi perkalian bilangan bulat ini adalah sebagai berikut :

(1) Sifat tertutup, maksudnya hasil dari operasi bilangan pasti akan berbentuk bilangan bulat kembali.

(2) Sifat pertukaran. Caranya adalah tanyakan hasil dari 6 x 2, begitu pula hasil dari perkalian 2 x 6. Dengan menyebutkan bahwa 2 x 6 adalah seharga dengan 6 x 2 maka guru hendaknya memberitahukan sifat yang demikian adalah merupakan sifat pertukaran dari perkalian bilangan bulat.

(3) Sifat Pengelompokkan. Contoh, apakah 2 x ((-3) x 5 seharga dengan (2 x (-3)) x 5. Terhadap soal ini maka operasi menjadi :

?

2 x ((-3) x 5 = (2 x (-3)) x 5

?

2 x (-15) = (-6) x 5

Ternyata hasilnya -30 = -30, yang berarti 2 x ((-3) x 5) adalah sama dengan (2 x (-3)) x 5.

Jadi jika ditulis dalam bentuk umum adalah : (a x b) x c = a x (b x c)

(4) Sifat Penyebaran (Distribusi). Contoh 3 x {(-5) + 6} apakah {3 x (-5) } + (3 x 6).

Pada bentuk 3 x {(-5) + 6} hasil operasinya adlah 3 x (1) = 3. Sementara untuk bentuk {3 x (-5)} + (3 x 6) akan didapat (-15) + 18 = 3.

Ternyata dari kedua bentuk operasi di atas menunjukkan hasil yang sama, ini berarti bahwa :

3 x {(-5) + 6 } adalah seharga dengan {3 x (-5)} + (3 x 6)

Atau ditulis dengan 3 x {(-5) + 6} = {3 x (-5)}+ (3 x 6).

Bentuk tersebut dapat dapat ditulis secara umum ke dalam bentuk :

P x (q + r) = (p x q) + (p x r)

(5) Sifat Bilangan Satu

Contoh : 6 x 1

- 4 x 1

3 x 1

2 x 1

-5 x 1 … dan seterusnya.

Maka akan ditemukannya hasil perkalian yang berupa bilangan itu sendiri. Itu dinamakan sebagai Unsur Identitas dalam operasi perkalian bilangan bulat.

(6) Sifat Bilangan Nol

Untuk sembarang bilangan bulat dapat disimpulkan bahwa :

a x 0 = 0

C. Operasi Pembagian

Operasi pembagian pada hakikatnya adalah suatu proses pencarian tentang faktor (bilangan) yang belum diketahui. Oleh karena itu pembagian dapat dipandang sebagai suatu bentuk operasi perkalian dengan salah satu faktornya yang belum diktahui. Sebagai contoh, kalau dalam perkalian 4 x 5 = n tentu n = 20, maka dalam pembagian hal tersebut dapat dinyatakan dengan bentuk 20 : 4 = n atau 20 : 5 = n.

Di samping cara seperti di atas, terdapat pula cara lain, yaitu dengan menggunakan garis bilangan. Langkah yang dilakukan adalah mencari berapa banyak langkah sesuai dengan pembagian dari bilangan yang dibagi agar sampai di titik 0. Sebagai contoh 15 : 3 maka penggambaran dalam garis bilangan itu sebagai berikut :

· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·

-6 3 0 3 6 9 12 15

POKOK-POKOK KONSEPSI KETAHANAN NASIONAL

Oleh Tatang JM.

1.1 Konsepsi Dasar Ketahanan Nasional

Manusia sebagai salah satu jenis makhluk Tuhan pertama-tama berusaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya (survival).

Dalam rangka tersebut ia memenuhi keperluan hidupnya dari yang paling pokok sampai yang paling mutakhir, baik bersifat materi maupun kejiwaan.

Untuk keperluan tersebut manusia hidup berkelompok (Home Socius) dan memperkaya diri dengan alat peralatan penolong (home sapiens) serta menghuni suatu wilayah tertentu yang dibinanya dengan kemampuan dan kekuasaan (zoon politicon).

Secara Antropologi-Budaya, manusia merupakan makhluk Tuhan tersempurna karena pada manusia selain kehidupan ia mempunyai kemampuan berfikir (akal) serta keterampilan dan karenanya lahirlah manusia budaya atau manusia berbudaya.

Sebagai manusia budaya ia mengadakan hubungan dengan alam sekitarnya di dalam usaha mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya. Kita mengenal hubungan tersebut sebagai berikut :

- Manusia – Tuhan – Agama / Kepercayaan

- Manusia – Cita-cita – Ideologi

- Manusia – Kekuasaan/Kekuatan – Politik

- Manusia – Pemenuhan Keperluan – Ekonomi

- Manusia – Penguasaan/Pemanfaatan Alam – Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

- Manusia – Manusia – Sosial

- Manusia – Rasa Keindahan – Kesenian (kebudayaan sempit)

- Manusia – Rasa Aman – Hankam

- Dan sebagainya.

Perangkat hubungan tadi merupakan bidang kehidulpan manusia budaya atau kebudayaan manusia yang berlangsung di atas bumi dengan memanfaatkan segala kekayaan alam yang dapat dicapai dan dijangkaunya dengan menggunakan kemampuannya. Manusia bermasyarakat untuk dapat memenuhi keperluannya yaitu kesejahteraan dan keselamatan serta keamanannya.

Oleh karena itu, ketahanan nasional hakekatnya merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan serta serta keamanan di dalam kehidupan nasional.

Kehidupan nasional tersebut dapat dibagi di dalam beberapa aspek sebagai berikut :

* Aspek Alamiah (TRIGATRA) yang meliputi :

- Posisi dan lokasi geografi negara

- Keadaan dan kekayaan alam

- Keadaan dan kemampuan penduduk

* Aspek Sosial / Kemasyarakatan (PANCA GATRA) yang meliputi :

- Ideologi

- Politik

- Ekonomi

- Sosial – Budaya

- Militer Hankam

Antara TRIGATRA dan PANCA GATRA itu terdapat hubungan timbal balik yang erat dinamakan hubungan (korelasi) dan ketergantungan (interdependensi). Oleh karena itu, TRI GATRA dan PANCA GATRA merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh yang dinamakan ASTA GATRA.

1.2 Tujuan Ketahanan Nasional

Tujuan Ketahanan Nasional adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama seluruh manusia dan membina daya kekuatan serta kemampuan sendiri untuk menjamin hari depan negara dan bangsa. Jadi, tujuan Ketahanan Nasional bukanlah untuk menanamkan rasa permusuhan terhadap suatu negara atau kelompok negara tertentu.

Selain itu, Ketahanan Nasional bertujuan mementingkan konsultasi dan saling menghargai di dalam pergaulan hidup serta menjauhi antagonisme dan konfrontasi. Intinya, Ketahanan Nasional diharapkan dapat dipakai di samping konsepsi power politics.

1.3 Ketahanan Astra Gatra

a. Posisi dan Lokasi Geografi Negara

Posisi dan lokasi geografi suatu negara dapat memberikan petunjuk mengenai tempatnya di atas bumi yang memberikan gambaran tentang bentuk ke dalam dan bentuk ke luar.

Ada dua jenis negara yang mempunyai ciri khusus berkenaan dengan lokasinya, yaitu :

1) Negara dikelilingi daratan (Land locked country)

Lingkungan negara demikian bersifat serba daratan atau sarwa benua. Ciri sarwa benua itu mempengaruhi dan menentukan cara pandang negara yang bersangkutan di segala bidang kehidupan nasionalnya. Contoh : Laos, Swiss, dan Afghanistan.

2) Negara dikelilingi lautan

- Negara Kepulauan (Archipelago State)

- Negara Pulau (Island State)

b. Keadaan dan Kekayaan Alam

Kekayaan alam suatu negara adalah segala sumber dan potensi alam yang didapatkan di bumi, di laut, dan di udara yang berada di wilayah kekuasaan suatu negara.

Hidup berkembang biak dan mempertahankan diri dengan cara memanfaatkan alam dan kekayaan yang didapat di tanah airnya merupakan naluri dan fungsi utama semua makhluk Tuhan. Setiap bangsa wajib mempersiapkan potensi alamnya sederajat dengan kemampuan bangsa lain, agar bentrokan ekonomi dan budaya di dunia modern ini sejauh mungkin dapat dihindari. Karena itu, di dalam pemanfaatannya tidak dapat dielakkan adanya ketergantungan antar negara di bidang sumber daya alam (International Interdependency of Natural Resources) yang dapat menimbulkan problem hubungan internasional.

c. Keadaan dan Kemampuan Penduduk

Penduduk adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu tempat atau wilayah. Adapun faktor penduduk yang mempengaruhi ketahanan Nasional adalah sebagai berikut :

1) Faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk

Jumlah penduduk berubah karena kematian, kelahiran, pendatang baru, dan orang yang meninggalkan wilayahnya. Segi positif dari pertambahan penduduk ialah pertambahan angkatan kerja (man power) dan pertambahan tenaga kerja (labour force). Dan dari segi negatifnya ialah apabila pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tidak diikuti dengan usaha peningkatan kualitas penduduk.

2) Faktor yang mempengaruhi komposisi penduduk

Komposisi adalah susunan penduduk menurut umur, kelamin, agama, suku bangsa, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Susunan penduduk itu dipengaruhi oleh mortalitas, fertilitas, dan migrasi. Fertilitas sangat berpengaruh besar terhadap umur dan jenis penduduk golongan muda yang dapat menimbulkan persoalan penyediaan fasilitas pendidikan, perluasan lapangan kerja, dan sebagainya.

3) Faktor yang mempengaruhi distribusi penduduk

Distribusi penduduk yang ideal adalah distribusi yang dapat memenuhi persyaratan kesejahteraan dan keamanan yaitu penyebaran merata. Oleh karena itu diperlukan kebijakan pemerintah yang mengatur penyebaran penduduk, misalnya dengan cara transmigrasi, pusat-pusat pengembangan (growth centers), pusat-pusat industri, dan sebagainya.

d. Ketahanan di Bidang Ideologi

Ideologi adalah perangkat prinsip pengarahan (guiding principles) yang dijadikan dasar serta memberikan arah dan tujuan untuk dicapai dalam melangsungkan hidup dan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.

Ketahanan Nasional di bidang ideologi dapat diartikan sebagai kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan keteguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi suatu bangsa dan negara.

e. Ketahanan di Bidang Politik

Politik dalam ilmu pengetahuan senantiasa dihubungkan dengan kekuatan atau kekuatan yang menjadi pusat perhatiannya.

Masalah politik berada di dalam konteks negara, karena kekuasaan di dalam suatu negara berpusat pada pemerintahan negara. Oleh karena itu, perjuangan memperoleh kekuatan dalam pemerintahan terkadang berubah menjadi perjuangan menguasai pemerintah.

Pengertian Ketahanan Nasional di bidang Politik diartikan sebagai “kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan pengembangan kekuatan nasional, di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik suatu bangsa dan negara”.

Kehidupan politik dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu sektor pemerintah dan sektor masyarakat.

Masyarakat berfungsi sebagai in-put yaitu berwujud pertanyaan keinginan dan tuntutan masyarakat (social demand) sedangkan pemerintah berfungsi sebagai out-put yaitu menentukan kebijaksanaan umum yang bersifat keputusan politik (political decision).

Lima fungsi utama suatu sistem politik yaitu :

- Mempertahankan pola

- Mengatur dan menyelesaikan ketegangan atau konflik

- Penyesuaian

- Pencapaian tujuan

- Penyatuan (Integrasi)

f. Ketahanan di Bidang Ekonomi

Ekonomi adalah segala kegiatan pemerintah dan masyarakat di dalam pengelolaan faktor produksi yaitu bumi, sumber alam, tenaga kerja, modal, teknologi dan management di dalam produksi serta distribusi barang dan jasa demi kesejahteraan rakyat, baik fisik material maupun mental spiritual.

Faktor yang mempengaruhi Ketahanan Nasional di bidang ekonomi berupa tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan terhadap kelangsungan ekonomi suatu bangsa pada hakikatnya ditujukan kepada faktor produksi dan pengolahannya. Oleh karena itu, pembinaan ekonomi pada dasarnya merupakan penentuan kebijakan ekonomi dan pembinaan faktor produksi serta pengolahannya di dalam produksi dan distribusi barang dan jasa baik di dalam negeri maupun dengan luar negeri.

g. Ketahanan di Bidang Sosial-Budaya

Istilah Sosial-budaya di dalam Ilmu Pengetahuan menunjuk kepada dua segi utama dari kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan.

Setiap masyarakat memiliki 4 unsur penting bagi eksistensinya, yaitu: Struktur Sosial, Pengawasan Sosial, Media Sosial, dan Standar Sosial.

Faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional di bidang sosial-budaya :

1. Tradisi

2. Kepemimpinan Nasional

3. Tujuan Nasional

4. Kepribadian Nasional

h. Ketahanan di Bidang Pertahanan-Keamanan

Pertahanan keamanan adalah daya upaya rakyat semesta dengan angkatan bersenjata sebagai inti dan merupakan salah satu fungsi utama pemerintah dalam menegakkan ketahanan nasional dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan negara serta keamanan perjuangannya. Hal itu dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.

Faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional di bidang pertahanan keamanan ialah :

1. Doktrin

2. Wawasan Nasional

3. Sistem Hankam

4. Geografi

5. Manusia

6. Integrasi Angkatan Bersenjata dan Rakyat

7. Pendidikan Kewiraan

8. Materiil

9. Iptek

10. Manajemen

11. Pengaruh luar negeri

12. Kepimpinan

1.4 Bentuk dan Hakikat Ketahanan Nasional

Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara.

Untuk dapat memungkinkan berjalannya Pembangunan Nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang timbul, maka perlu dipupuk terus menerus Ketahanan Nasional yang meliputi segala aspek kehidupan.

Penyelenggaraan Ketahanan Nasional menggunakan pendekatan kesejahteraan nasional dan keamanan nasional. Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan Ketahanan Nasional adalah kemampuan bangsa menumbuhkan dan menyumbangkan nilai-nilai nasionalnya menjadi kemakmuran sebesar-besarnya yang adil dan merata, rohaniah dan jasmaniah. Sedangkan keamanan yang mewujudkan ketahanan nasional adalah kemampuan bangsa melindungi eksistensinya dan nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari dalam maupun dari luar.

Pengaturan dan penyelenggaraan Kesejahteraan Nasional menggunakan tiap-tiap gatra Asta Gatra, demikian pula untuk keamanan nasional. Bergantung kepada sifat-sifat gatranya, maka gatra yang satu mempunyai peranan :

· Yang sama besar untuk kesejahteraan maupun keamanan

· Yang lebih besar kepada kesejahteraan daripada keamanan

· Yang lebih besar kepada keamanan daripada kesejahteraan

Untuk mendapatkan hasil Ketahanan Nasional yang diinginkan, maka harus diusahakan penilaian kualitatif dan kuantitatif atas perwujudan kesejahteraan dan keamanan oleh tiap-tipa gatra.

1.5 Sifat-sifat Ketahanan Nasional

1) Manunggal

Antara Trigatra dan Panca Gatra harus bersatu (integratif). Sifat integratif ini tidak dapat diartikan mencampuradukkan, tetapi integrasi dilaksanakan secara serasi dan selaras.

2) Mawas ke Dalam

Ketahanan Nasional diarahkan kepada diri bangsa dan negara itu sendiri, karena bertujuan mewujudkan hakikat dan sifat nasionalnya sendiri.

3) Berkewibawaan

Ketahanan Nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat “Manunggal” tersebut mewujudkan kewibawaan nasional yang harus diperhitungkan oleh pihak lain dan mempunyai daya pencegah (deterent). Makin tinggi tingkat kewibawaan, makin besar daya pencegahnya.

4) Berubah menurut Waktu

Ketahanan Nasional suatu bangsa tidaklah tetap adanya. Ia dapat meningkat atau menurun dan bergantung pada situasi dan kondisi bangsa itu sendiri.

5) Tidak membenarkan Sikap dan Kekuasaan dan Adu Kekuatan

Kalau konsep adu kekuasaan dan adu kekuatan bertumpu pada kekatan fisik, maka ketahanan nasional tidak mengutamakan kekuatan fisik saja, tetapi memanfaatkan daya dan kekuatan lain, seperti kekuatan moral suatu bangsa.

6) Percaya pada Diri Sendiri (Self Confidence)

Ketahanan Nasional dikembangkan dan ditingkatkan berdasar sikap mental percaya pada diri sendiri.

7) Tidak Bergantung pada Pihak Lain (Self Relience)

Kebanyakan negara berkembang merupakan bekas daerah jajahan yang masih dipengaruhi mental kolonial dan rasa ketergantungan kepada bekas penjajahnya. Sikap mental demikian harus dikikis habis dan sebagai gantinya ditumbuhkan sikap mental yang berkepercayaan pada diri sendiri yang patriotik dan nasionalistik tanpa menjerumuskan diri ke dalam fanatisme dan chauvinisme (nasionalisme yang sempit).

M B S

OLEH : TATANG JM.

A. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM KONTEKS DESENTRALISASI PENDIDIKAN

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan bentuk alternatif sekolah dalam desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah., partisipasi masyarakat yang tinggi dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

Asumsi Dasar dari MBS adalah bahwa sekolah harus lebih bertanggung jawab (high Responsibility), dan mempunyai wewenang yang lebih (more authority), dan dapat dituntut pertanggungjawaban oleh yang berkepentingan (public accountability by stakeholders) dalam mengemban misinya sebagai pelayan di bidang pendidikan.

MBS adalah bentuk desentralisasi pendidikan dalam kewenangan pengambilan keputusan pada sekolah yang menekankan perlunya sekolah meningkatkan pelayanan baik secara internal (siswa) maupun eksternal (masyarakat), serta pihak terkait lainnya seperti dunia usaha dan dunia industri.

Manajemen Berbasis Sekolah bertujuan untuk :

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang terse dia.

2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam peneyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama/ partisipatif.

3. Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

(Budi Raharjo, Ir. Manajemen Berbasis Sekolah, 2003 : 5-6)

Fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah dalam MBS ini adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan dan Evaluasi

Sekolah harus melakukan analisis kebutuhan program sekolah dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut kemudian sekolah membuat rencana peningkatan program. Sekolah harus melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan.

2. Pengelolaan Kurikulum

Dalam implementasi kurikulum sekolah dapat mengembangkan (memperdlam, memperkaya, memodifikasi)tapi tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. Ini sejalan dengan pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di mana program dengan pendekatan kompetensi lebih sesuai dan pas dikelola melalui MBS. Sekolah akan leluasa menerapkan kurikulum dan dalam pengembangan muatan lokal serta menyiapkan keterampilan hidup bagi peserta didik.

3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar (PBM)

PBM adalah kegiatan utama sekolah di mana sekolah diberi kebebasan memilih strategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif sesuai dengan tuntunan KBK. Strategi/metoded/teknik pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa.

4. Pengelolaan Ketenagaan

Pengelolaan tenaga kependidikan dan lainnya mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, rekruitmen, pengembangan, penghargaan dan hukuman (reward and punishment), hubungan kerja, sampai evaluasi kinerja tenaga kerja dapat dilakukan oleh sekolah.

5. Pengelolaan Fasilitas

Pengelolaan fasilitas khususnya yang berkaitan langsung dengan PBM, mulai dari pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan hingga pengembangannya dapat dilakukan oleh sekolah.

6. Pengelolaan Keuangan

Sekolah diberi kebebasan untuk melakukan pengalokasian dan penggunaan dana, serta pengelolaan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan sebagai sumber bagi sekolah.

7. Pengelolaan Layanan Siswa

Peningkatan pelayanan siswa, mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan/pembinaan/pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja, hingga sampai pada pengurusan alumni.

8. Pengelolaan Hubungan Sekolah-Masyarakat

Peningkatan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial.

9. Pengelolaan Iklim Sekolah

Peningkatan pengelolaan lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa akan menumbuhkan semangat belajar siswa.

B. OPERASIONAL MBS

1. Aspek Organisasi

a. Komite Sekolah

Komite Sekolah merupakan lembaga manajemen yang bertanggung jawab kepada masyarakat dan merupakan mitra dari sekolah. Komite Sekolah dipilih dari tokoh masyarakat dan orang tua siswa yang peduli pada pendidikan. Mereka bisa pelaku bisnis, bankir, para teknokrat, Kepala Sekolah, Alim Ulama, olahragawan, dari tokoh-tokoh dimasyarakat yang terpandang dan jadi panutan masyarakat.

b. Organisasi Sekolah

Dalam mengembangkan organisasi sekolah terutama di SD perlu memperhatikan jumah guru yang ada dan harus pula memperhitungkan efektifitas dan efisiensi.

2. Kurikulum

a. Materi

Sesuai dengan PP No. 25 Tahun 2000, dalam bidang pendkidikan dan kebudayaan pemerintah pusat hanya menyusun kurikulum inti (Standar Kompetensi Minima) untuk menjaga kualitas dan kesatuan bangsa. Untuk tahun 2004 berlaku kurikulum baru yang sering disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pedoman-pedoman disusun ditingkat pusat, namun materi yang dipilih dan ditentukan di DT II atau sekolah dengan memperhatikan kondisi setempat. Waktu belajar boleh ditambah atau dikurangi namun untuk kurikulum tidak boleh dikurangi, Kurikulum muatan lokal disusun di tingkat sekolah berdasarkan kondisi lingkungan setempat atau disediakan ditingkat II bagi sekolah yang yang tidak mampu menyusun sendiri. Isi kurikulum bisa bervariasi sehingga antara sekolah yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda.

b. Pengujian

Analisis kisi-kisi dan standar kompetensi minimal dibuat di pusar, sedangkan penyusunan pengadaan dilaksanakan di tingkat II, Quality control atau jaminan mutu perlu dilakukan dengan ditentukannya Standar Penilaian Minimal (SPM) yang harus dipatuhi daerah. Untuk tingkat Propinsi di mana terdapat Balai Penataran Guru (BPG) fungsinya harus ditingkatkan untuk menjadi suatu lembaga yang melakukan pengawasan mutu di samping perlunya dibuat sekolah model yang bisa disupervisi oleh pusat dan kemudian dijadikan contoh bagi daerah.

3. SDM

a. Kepala Sekolah

Persyaratan menjadi Kepala Sekolah lebih diperketat, bukan hanya persyaratan kulaifikasi akademik seperti misalnya berijazah minimal D2 untuk Kepala SD dan D3/SI bagi Kepala SMP, SMA, SMK, tetapi juga diharuskan menjalani fit and profer test (Tes Uji Kelayakan) serta pada gilirannya nanti seorang calon kepala sekolah harus mempunyai sertifikat khusus yang dikeluarkan oleh lembaga atau perguruan tinggi yang berkompeten. Hal ini penting untuk menjaga mutu, upaya sementara bisa dengan pelatihan yang relevan.

b. Guru

Persyaratan untuk menjadi guru baik SD, SMP, SMA, maupun SMK bukan hanya memenuhi persyaratan ijazah formal seperti D2, D3, S1 saja, juga perlu adanya fit and profer test demi menjamin adanya guru-guru bermutu.

4. Kesiswaan

Organisasi Siswa semacam OSIS perlu dibentuk agar siswa SD sudah belajar berorganisasi. Hal ini juga penting untuk menumbuhkan dedmokratisasi di kalangan siswa SD. Penyaluran bakat siswa baik kesenian maupun olah raga serta siswa yang mempunyai bakat khusus dalam mata pelajaran tertentu seperti Matematika atau IPA perlu penanganan tersendiri agar bakat-bakat tersebut terus berkembang.

5. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan perlu diperhatikan. Komite Sekolah harus mempunyai rencana untuk menambah, memperbaiki serta mengganti sarana prasarana yang sudah kurang layak untuk dipergunakan di sekolah. Di samping itu bantuan dari tingkat I dan II masih sangat diperlukan terutama untuk sekolah-sekolah yang miskin dan terpencil.

6. Pembiayaan / Anggaran

Pembiayaan bisa berasal dari pendapatan mandiri sekolah yang direncanakan oleh Komite Sekolah ditambah bantuan dari tingkat I dan II. Pertanggungjawaban penggunaan keuangan harus terbuka sebagai bentuk dari adanya akuntabilitas publik sehingga tidak akan terjadi kecurigaan dari pihak masyarakat yang sangat berkepentingan terhadap sekolah.

7. Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam bentuk ide, gagasan, saran, aspirasi maupun berbentuk tenaga, dana dan materi perlu digali, dimanfaatkan, dan diarahkan secara optimal untuk kepentingan sekolah.

C. ANALISIS SWOT DALAM IMPLEMENTASI MBS

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, threat) dilakukan untuk mengetahui tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi baik faktor internal maupuan faktor eksternal.

D. DIMENSI KEPEMIMPINAN MANDIRI KEPALA SEKOLAH

MBS akan berhasil jika ditopang oleh kemampuan profesional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien, serta mampu menciptakan iklim organisasi di sekolah yang kondusif untuk proses belajar mengajar.

Menurut Dadi Permadi, dimensi kepemimpinan mandiri kepala sekolah adalah :

1. Visi yang utuh

2. Membangun kepercayaan dan tanggung jawab, pengambilan keputusan dan komunikasi (Hubungan sekolah dengan masyarakat)

3. Pelayanan terbaik

4. Mengembangkan orang

5. Membina rasa persatuan dan kekeluargaan

6. Fokus pada siswa

7. Manajemen yang memperhatikan praktek

8. Penyesuaian gaya kepemimpinan

9. Pemanfaatan kekuasaan

10. Keteladanan, ekstra inisiatif, jujur, berani dan tawakkal

KESULITAN BELAJAR

A. Sebab-sebab Terjadinya Kesulitan Belajar

Penyebab timbulnya ketidakberesan dalam belajar memang banyak dan beragam. Kiranya penyebab itu dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu yang ada dalam diri anak yang belajar, dan yang ada di luar anak yang belajar.

Adapun faktor-faktor kesulitan belajar anak antara lain :

  1. Faktor Internal Siswa (Dalam diri anak)

Faktor ini dipengaruhi oleh keadaan diri siswa itu sendiri, meliputi kemampuan intelektual, faktor afektif seperti perasaan dan percaya diri, motivasi kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, latar belakang sosial, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, kemampuan panca indera, labilnya emosi dan sikap.

  1. Faktor Internal Siswa (dari luar anak)

Faktor eksternal yang menjadi penyebabnya terdiri dari tiga bagian, yaitu :

2.1 Lingkungan keluarga, contoh : ketidakharmonisan dalam keluarga dan rendahnya ekonomi keluarga

2.2 Lingkungan tempat tinggal anak, seperti lingkungan kumuh dan teman sepermainannya nakal

2.3 Lingkungan sekolah, yakni kondisi dan letak bangunan sekolah yang buruk (dekat pasar, keramaian lainnya), kondisi guru, serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

Sesuai dengan faktor-faktor di atas, tidak berhasilnya belajar yang dicapai oleh anak dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya :

  1. Rendahnya kemampuan intelektual anak
  2. Gangguan perasaan/emosi
  3. Kurangnya motivasi untuk belajar
  4. Kurang matangnya anak untuk belajar
  5. Usia yang terlampau muda
  6. Latar belakang sosial yang tidak menunjang
  7. Kebiasaan belajar yang kurang baik
  8. Kemapuan mengingat yang rendah
  9. Terganggunya alat-alat indera
  10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
  11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar

B. Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar

Diagnosis berarti proses pemeriksaan terhadap sesuatu gejala yang tidak beres. Dengan demikian, diagnosis kesulitan belajar dilakukan apabila guru menandai atau mengidentifikasi adanya kesulitan belajar pada muridnya. Oleh karena itu agar diagnosis belajar berlangsung secara sistematis, langkah-langkah diagnosis harus dipahami. Langkah-langkah tersebut adalah ;

  1. Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar
  2. Menelaah atau menetapkan status siswa
  3. Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar

1. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar

Gejala-gejala munculnya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, salahsatu di antaranya dapat terlihat dari perubahan perilaku yang menyimpang seperti sering mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, dan sering bolos. Gejala lainnya juga dapat dilihat dari menurunnya hasil belajar yang dapat dilihat dari hasil latihan

Menurunya hasil belajar siswa merupakan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar. Alam kehidupan persekolahan tidak jarang terjadi seorang murid tinggal kelas berkali-kali tanpa dapat perhatian dari guru, hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan guru menandai adanya kesulitan belajar atau guru tidak mau melaksanakan tugasnya.

2. Menelaah/Menetapkan Status Siswa

Penelaahan dan penetapan status murid dilakukan dengan cara menempuh :

a. Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan oleh murid

b. Meningkatkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebut oleh murid yang bersangkutan dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat.

c. Menetapkan pola pencapaian murid yaitu seberapa jauh berbeda dari tujuan yang ditetapkan itu.

Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan dicapai oleh murid dapat dilakukan guru dengan berbagai cara, antara lain dengan menjabarkan secara lebih rinci tujuan-tujuan intelektual yang ada dalam GBPP dan menyusun rincian tentang perilaku tertentu yang harus ditunjukkan murid dengan berpedoman pada tugas-tugas perkembangan atau norma-norma yang berlakudi daerah tersebut.

Contoh :

1. Murid di kelas I Cawu I diharapkan dapat menempelkan kartu-kartu kalimat dibawah gambar-gambar yang tepat.

2. Dalam Matematika murid kelas II diharapkan dapat menyelesaikan 10 soal latihan penjumlahan sederhana dalam waktu 20 menit dengan 80 % benar.

3. Jika bertemu dengan guru, murid mau memberi salam dengan sikap yang sopan.

4. Kalau memasuki ruangan guru, murid terlebih dulu mengetuk pintu dan menunggu sampai diizinkan masuk.

5. dalam Tes Sumatif, murid dapat mengerjakan soal dengan 75 % benar.

Langkah kedua yaitu meningkatkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebutoleh siswa dengan menggunakan tekniok dan alat penilaian yang akan digunakan. Nama alat tersebut dikenal dengan nama alat diagnosis.

Di Amerika sebab-sebab kesulitan belajar diungkapkan melalui beberapa tahap berikut :

a. Mengadakan observasi kelas, untuk perilaku yang menyimpang dari anak dalam mengikuti kegiatan akademis.

b. Pemeriksaan penglihatan dan pendengaran yang ditandai kesulitan akademis.

c. Wawancara dengan orangtua murid untuk mengetahui hal-hal dalam keluarga yang mungkin mempengaruhi pencapaian akademis.

d. Memberikan tes kemampuan umum untuk mengetahui kemampuan intelektual (18) murid.

e. Memberi tes diagnosis dalam bidang keterampilan akademis tertentu untuk melihat hakikat masalah yang dihadapi murid

3. Memperkirakan Sebab Kesulitan Belajar

Gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang berbeda. Keadaan ini sering menyesakan guru dalam memperkirakan penyebab suatu kesulitan belajar. Misalnya kesulitan dalam membaca dapat disebabkan oleh terganggunya penglihatan seorang murid, dapat juga disebabkan oleh kemampuan mureid yang rendah dalam mengingat bentuk huruf, atau kemampuan kognitifnya yang rendah untuk menangkap dan menghubungkan lambang secara serentak.

Agar perkiraan tentang penyebab kesulitan belajar menjadi lebih terarah dan sistematis, langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Berdasarkan informasi yang tersedia yang dikumpulkan dalam tahap penelaahan dan penetapan status. Guru menyusun berbagai sebab yang mungkin dari kesulitan belajar anak tersebut, misalnya pada kasus Siti, penyebab yang mungkin adalah kurang fahamnya Siti paa konsep perkalian, kurang dikuasainya konsep penjumlahan, kelelahan, dan kurang latihan.

b. Setelah sejumlah sebab diidentifikasi oleh guru, guru menelaah setipa sebab dan memlilih sebab-sebab yang paling mendekati kenyataan. Pemilihan ini dapat pula dilakukan dengan membuang “sebab” yang kelihatan kurang tepat, sehingga “tinggal sebab” yang paling mendekati ketepatan, misalnya : kelelahan yang tidak sesuai dengan keadaan fisik, kurang terkuasainya konsep perjumlahan dan perkalian, kebenarannya diteliti melalui latihan, kurangnya latihan.

c. Setelah menelaah dan memilih sebab-sebab tersebut, maka guru menarik kesimpulan dari hasil penelaahan tersebut, misalnya penyebab yang diperkirakan paling tepat adalah kurang terkuasainya konsep dasar perkalian serta kurangnya latihan.

Keuntungan yang didapat dari cara ini adalah guru terhindar dari pengabaran atau ketidakpedulian terhadap penyebab yang duianggap sepele/tidak berrati, padahal mungkin penyebab itu merupakan penyebab utama.

C. Alternatif Pemecahan Kualitas Belajar

1. Analisis Hasil Diagnosis Kesulitan Belajar

Data dan inforamsi yang diperoleh guru melalui diagnosis kesulitan belajar tadi perlu analisis sedemikian mungkin, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.

Contoh : Badu mengalami kesulitan khusus dalam mengalami konsep kata polisemi. Polisemi adalah sebuah istilah yang menunjuk kata yang memiliki dua makna atau lebih, kata “turun” umpamanya dapat dipakai frase seperti turun harga, turun ranjang, turun tangga, dan seterusnya. Contoh sebaliknya kata “naik” yang juga dapat dipakai dalam frase seperti naik daun, naik banding, dan sebagainya.

Tes diagnosis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Tes ini memusatkan diri pada pencapaian tujuan dalam bidang yang akan di diagnosis.

b. Memuat perincian nilai(skor) yang lebih luas untuk setiap bagiantes, dengan demikian mengandung butir tes yang lebih banyak untuk mengetes setiap kemampuan.

c. Butir-butir tes disusun berdasarkan analisis yang cermat tentang keterampilan khusus yang berperan dalam keberhasilan belajar dan suatu studi tentang kesalahan yang umum dibuat oleh para murid.

d. Agar pencapaian murid yang mengalami kesulitan belajar dapat diukur dengan cermat, maka tingkat kesukaran diagnosis pada umumnya rendah. Selanjutnya disebutkan bahwa tes diagnosis yang baik berfokus pada bidang masalah yang potensial dan merinci jenis-jenis kesalahan khusus yang dibuat oleh murid.

Untuk menyusun tes diagnosis yang memenuhi keperluan anda, ikuti petunjuk berikut ini :

1. Tentukan tujuan khusus yang harus dicapai murid dengan cermat

2. Tentukan tahap-tahap yang harus dilalui murid dalam mencapai tujuan khusus tersebut.

3. Susun butir tes untuk mengukur tingkat pencapaian murid pada setiap tahap

2. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah

Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan.

Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikatagorikan menjadi 3 macam :

a. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.

b. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri dengan bantuan orang tua

c. Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani, baik oleh guru maupun orang tua.

Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani oleh guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus-kasus Tuna Grahita (lemah mental) dan kecenderungan narkotika. Mereka yang bermaalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskiled people) karena mereka tidak hanya memerlukan pendidikan khsusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.

3. Menyusun Program Perbaikan

Dalam hal menyusun program pengutaraan perbaikan (remidial teaching), sebelumnya perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :

a.Tujuan pengajaran remidial

b. Materi pengajaran remidial

c.Metode pengajaran remidial

d. Alokasi waktu pengajaran remidial

e.Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remidial

Agar lebih jelas pada sebuah contoh program pengajaran remidial yang sengaja dikaitkan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa.

Contoh :

Program Pengajaran Remidial

Nama : Badu

Kelas : II A2 SMA “XY “ Bandung

Jenis Kesulitan : memahami kata-kata poli semi dalam bahasa

Khusus : Indonesia

Tujuan remidial : Badu dapat memahami kata-kata naik dan turun

Materi remidial : 1. Sebuah seri gambar yang terdiri atas a) gambar

Yang mempergerakkan arti kata “naik” b) gambar

Yang mempergerakkan arti kata “turun” c) gambar

2. Sebuah seri kartu kata yang terdiri atas

a) kartu kata “naik”

b) kartu kata “turun”

3. Tuga buah cerita pendek yang masing-masing mengandung kalimat-kalimat yang menggunakan kata “turun”, “naik”.

Alokasi waktu : 45 menit

Evaluasi remidial : Menggunakan intermen tes isian yang terdiri atas kalimat-kalimat yang harus disempurnakan dengan menggunakan kata naik, dan kata turun.

4. Melaksanakan Program Perbaikan

Pada prinsipnya program pengajaran remidial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraan bisa dimana saja asal tempat itu memungkinkan siswa mengkonsentrasikan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut.

Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif kiat pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimibingan dan penyuluhan. Setelah itu guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu.

D. Metode Perbaikan Belajar Mengajar

Pada umumnya kita mengenal 2 jenis program perbaikan belajar mengajar, yang pertama program penyembuhan atau pengajaran remidial yang diediakan bagi murid yang mengalami kesulitan belajar. Yang kedua berupa program pengayaan bagi anak berbakat. Program pengayaan dilakukan dengan memberikan kegiatan tambahan yang biasanya tidak tersedia dalam program biasa. Program pengayaan dapat berbentuk memberikan tugas tambaan misal bagi anak yang berbakat dalam IPA disediakan sumber-sumber yang memungkinkan ia belajar IPA lebih jauh, membantu teman yang mendapat kesukaran.

Pada umumnya program penyembuhan atau remidial tidak jauh berbeda dari metode yang berlaku dalam kegiiatan belajar mengajar biasa, Cuma tekanan dan pelaksanaanya yang berbeda sesuai dengan masalah atau kesulitan yang ingin disembuhkan.

Metode yang digunakan dalam perbaikan belajar mengajar mempunyai ciri khusus sebagai berikut :

1. Memanfaatkan latihan khusus seperti latihan membaca kata-kata tertentu, mengerjakan soal-soal yang sudah dirancang.

2. Menekankan pada pemanfaatan segi-segi kemampuan yang kuat, misalnya anak yang tidak dapat memahami pelajaran IPS, melalui informasi lisan belajar, melalui gambar-gambar dengan materi yang sama karena daya pemahamannya melalui penglihatan cukup baik.

3. Menekankan pada penggunaan multi-sensor, dalam hal ini guru menyajikan pelajaran dengan menggunakan berbagai alat peraga, sehingga murid dapat melihat, mendengar, merasakan atau meraba materi yang sedang dibahas.

4. Memanfaatkan permainan sebagai alat belajar, misal untuk menghapalkan serangkaian fakta, guru mengajak murid melakukan permainan tebak-tebakan atau menyusun kata, atau singkatan yang menarik sebagai hafalan.

Yang perlu diingat oleh guru adalah bahwa dalam program perbaikan belajar mengajar guru tidak mungkin menggunakan metode ceramah, diskusi, penemuan atau metode lainnya sama seperti menggunakannya pada kegiatan belajar mengajar biasa. Suatu perubahan dapat dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan murid yamg mengalami kesulitan. Akhirnya perlu dicatat bahwa bahwa metode hanya merupakan salahsatu cara melakukan sesuatu

E. Menilai Perbaikan Belajar mengajar

Penilaian dilakukan dengan cara mengkaji setiap komponen program. Cara yang paling tepat mungkin melalui dari mengkaji hasil perbaikan yang dapat dilihat dari penilaian kemajuan siswa. Jika hasil perbaikan ini cukup memuaskan, dapat dianggap bahwa program perbaikan yang kita rencanakan dan laksanakan telah cukup efektif untuk mengatasi kesulitan belajar murid.

Namun jika hasil yang diharapkan tidak sesuai dalam arti kesulitan belajar tidak teratasi, kita harus meninjau keseluruhan program perbaikan dengan menganalisis setiap komponennya, sehingga tergambar “penyebab” kegagalan program tersebut. Untuk melakukan hal ini kita perlu melakukan penelaahan sebagai berikut :

1. Kemajuan murid : Berapa % kemajuan yang dicapai dan dalam hal apa saja.

2. Waktu : Apakah waktu perbaikan cukup atau kurang

3. Cara Penyampaian : a. Apakah sesuai dengan kemampuan murid ?

b. Jika ya, bagian mana yang sesuai, dan bagian mana yang tidak mendapat respon murid.

4. Materi : a. Apakah materi terlalu sukar bagi murid ?

b. Jika ya, apakah ada persyaratan yang terlupakan atau yang belum dikuasai murid ?

c. Persyaratan atau konsep lebih awal mana yang terlupakan ?

5. Tujuan : a. Apakah tujuan yang kita rumuskan terlalu tinggi bagi murid ?

b. Jika ya, adakah penguasaan awal yan terlupakan?

c. Penguasaan awal yang mana itu ?

6. Pelaksanaan : a. Apakah pelaksanaan sesuai dengan rencana ?

b. Kalau ada perubahan bagian mana saja yang dirubah ?

c. Mengapa perubahan itu diadakan ?

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 1

A. Peran Guru Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Belajar adalah suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.

Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55).

Di Indonesia pembelajaran pendidikan prasekolah lebih bersifat akademik, di mana anak lebih banyak duduk di bangku dan harus tertib seperti di sekolah. Jarang guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berksplorasi, mengekspresikan perasaannya, dan melakukan sendiri apa yang mereka minati, sampai menemukan pemecahan masalah sendiri.

Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran, antara lain :

1. Guru berperan sebagai pengajar

Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut.

2. Guru berperan membelajarkan anak

Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yanga ada dalam pikirannya

Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh (Tini Sumartini, 2005 :47)

B. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Orang tua sebagai guru alamiah akan mampu melihat dan mengerti serta menanggapi kemauan anak. Melalui berbagai komunikasi serta interaksi dengan orang tua akan terbentuk sikap, kebiasaan dan kepribadian seorang anak, selain itu ada pula faktor lingkungan yang secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan anak, seperti halnya dengan kebudayan. Kebudayaan (culture) secara tidak langsung ikut mewarnai situasi, kondisi ataupun corak interaksi di mana anak itu berada. Selain faktor-faktor di atas, faktor agama juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi dan kebiasaan anak. Salah satunya adalah anak mulai tahu tentang kebersihan, yakni dengan melakukan buang air di tempat yang biasa dilakukan oleh orang tuanya.

Pendidikan anak usia dini, suatu pembinaan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalm memasuki pendidikan lebih lanjut.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang kedua setelah pendidikan keluarga. Maka dari itu sekolah mempunyai peranan penting untuk meneruskan dasar-dasar pendidikan keluarga. Pada umumnya sekolah merupakan tempat anak didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, pengetahuan, keterampilan sehingga anak didik akan mendapat bekal hidup kelak bekerja di lingkungan masyarakat luas.

Anak usia dini pada hakikatnya adalah manusia yang memerlukan bimbingan, secara kodrati seorang anak sangat perlu pendidikan dan bimbingan dari orang dewasa. Masyarakat sebagai lingkungan terbesar dalam kehidupan, berguna untuk melatih jiwa anak dalam bersosialisasi terhadap masyarakat, seperti bermain dan bergaul.

Yang harus diperhatikan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak misalnya anak yang terdidik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa akan cenderung menjadi manusia yang religius pula.

Lingkungan dan keluarga sebagai pendidikan kedua setelah sekolah, orang tua memiliki peran yang cukup strategis dalam membantu guru memaksimalkan proses pembelajaran bagi anak-anak usia prasekolah. Dalam menyikapi berbagai perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat dalam masyarakat, maka orang tua harus memiliki pegangan edukatif dalam menciptakan suasana pembelajaran.

Tugas pokok orang tua yang dapat diberdayakan guru dalam meningkatkan perannya adalah :

1. Memberi nama yang tepat.

Pemberian nama akan memberi identitas kepada anak. Dengan berbagai kemajuan dan perubahan sosial nama anak semakin baik dan beragam, namun identitas keklaminan justru sangat penting.

2. Kebiasaan memberikan pakaian yang sesuai.

Berikan pakaian yang sesuai dengan anak agar nantinya Orangtua tidak bingung dengan kebiasaan anak yang kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan akibat dari seringnya memberikan pakaian yang tidak sesuai.

3. Pemilihan warna yang tepat, sebab warna dan motif juga sangat berpengaruh terhadap identitas kekelaminan.

4. Pengembangan hobi yang menunjang.

Kecenderungan biasanya terbaca sejak kecil sehingga pengembangan hobi yang sesuai akan memberikan bekal yang baik untuk perkembangan anak.

5. Memberikan batasan-batasan, aturan-aturan dengan bimbingan yang tepat

6. Memperhatikan tugas dalam rumah tangga. Secara tidak langsung anak akan memperhatikan dan mengerti tugas dan peran yang harus dimainkan.

TEORI BELAJAR

TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA

Teori belajar kognitif agak berbeda dengan teori behavioristik dalam pemahamannya tentang belajar. Menurut ahli psikologi kognitif ada sesuatu yang penting tidak ditemukan dari konsep “Operant-conditioning” yaitu apa yang sebetulnya terjadi di dalam diri seseorang pada saat belajar. Misalnya tentang bagaimana terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Semua pendekatan teori belajar prilaku tampaknya kurang mengindahkan proses-proses mental yang terjadi selama proses belajar seperti persepsi siswa, pemahaman dan kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur yang terjadi dalam situasi belajar. Ahli belajar kognitif memandang bahwa belajar bukan semata-mata proses perubahan tingkah laku yang tampak, namun sesuatu yang komplek yang sangat dipengaruhi oleh kondisi mental si belajar yang tidak tampak, oleh karenanya dalam pembelajaran di kelas seorang guru perlu memperhatikan kondisi siswa yang berhubungan dengan persepsi, perhatian , motivasi dan lain-lain.

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Teori Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif ini sangat erat hubungan dan berasal dari teori kognitif dan teori psikologi.
Tujuan dari teori psikologi adalah untuk membentuk hubungan yang teruji, yang teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka secara spesifik sesuai situasi psikologisnya. Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami orang lain, terutama muridnya. Ternyata hal ini dapat membantu si guru untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dalam teori kognitif belajar diartikan proses interaksional di mana seseorang memperoleh insight baru atau struktur kognitif dan merubah hal-hal yang lama.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi prinsip-prinsip belajar secara ilmliah yang dapat diterapkan ke situasi kelas dengan menghasilkan prosedur-prosedur di kelas untuk mendapatkan hasil yang paling produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungan psikologisnya merupakan faktor-faktor yang saling tergantung satu dan lainnya. Teori ini dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatar belakangi prilaku, cita-cita, cara-cara seseorang dan bagaimana seseorang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan orang tersebut. Setiap pengertian yang diperoleh berdasarkan pengertian yang diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya yang disebut insight.

2.2 Apakah Insight ?
Menurut teori ini insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahami masalah. Jadi insight adalah inti dari pemahaman.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain.

2.3 Temuan
Pendekatan Kognitif sudah sejak lama diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Selama perkembangannya ada empat model teori kognitif yang paling berpengaruh di dunia pendidikan dewasa ini, yaitu :
1) Teori belajar Bruner dengan model belajar penemuan.
2) Teori belajar Ausubel dengan model belajar bermakna
3) Teori belajar Robert Gagne dengan model pemrosesan informasi
4) Teori “Perkembangan Intelektual” JeanPiaget .

Masing-masing teori dan model mempunyai dasar pemikiran dan pandangan yang berbeda mengenai hakikat belajar dan bagaimana seharusnya pembelajaran dilaksanakan.

KESIMPULAN

Menurut teori belajar kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang di pilih untuk kepentingan dirinya.
Teori kognitif berhubungan dan berasal dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaiman seseorang memperoleh pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis membahas masalah hubungan atau uteraksi antara orang dan lingkungan psikologisnya secara bersamaan. Psikologi kognitif menekankan arti penting proses internal atau proses-proses mentak.
Menurut teori belajar kognitif merupakan proses-proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Adapun tujuan dari teori ini adalah :
1. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruangan kehidupan mereka sendiri secara spesifik sesuai situasi psikologisnya.
2. Membantu guru untuk memahami orang lain terutama muridnya dan membantu dirinya sendiri.
3. Mengkonstruksi prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
4. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa dirinya dan lingkungannya merupakan faktor yang saling tergantung satu sama lain.
Insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Dapat juga dikatakan insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahaminya. Insight terjadi dengan melihat kasus-kasus/kejadian yang terpisah kemudian menggeneralisasikannya dan timbul pemahaman. Perbedaan pandangan teori kognitif dan teori conditioning stimulus-respon adalah :
- Teori kognitif menekankan pada fungsi-fungsi psikologis
- Teori kognitif berfokus pada situasi saat ini
- Berinteraksinya orang dan lingkungan

Prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain.

Model teori belajar kognitif yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan adalah model belajar penemuan oleh Bruner, model belajar bermakna oleh Ausubel, model pemrosesan informasi dan model peristiwa pembelajaran oleh Rober Gagne dan model “perkembangan intelektual” oleh Jean Piaget.

MODEL TEORI BELAJAR BRUNER DAN AUSUBEL

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif (1915) yang memberi dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir.

Pendekatan Model Belajar Bruner
Pendekatan model belajar Bruner ini didasarkan pada dua asumsi, bahwa :
a. Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya pengetahuan akan diperoleh si belajar bila dalam pembelajaran yang bersangkutan berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Pendekatan interaktif ini tidak saja menguntungkan dan memberi perubahan pada si belajar tetapi juga bepengaruh dan memberi perubahan pada lingkungan di mana dia belajar.
b. Orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diperoleh sebelumnya. Dalam beljar hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberi arti. Dengan demikian setiap orang mempunyai model atau kekhususan dalam dirinya, untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal yang telah diketahuinya. Dengan model ini seseorang dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan pengetahuan baru ke dalam struktur yang telah dimiliki, sehingga memperluas struktur yang telah dimilikinya atau mengembangkan struktur baru.

Manfaat Belajar Penemuan
1. Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2. Pengetahuan yang diperoleh si belajar akan tertinggal lama dan mudah diingat.
3. Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam belajar agar si belajar dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima.
4. Transfer dapat ditingkatkan di mana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh si belajar daripada disajikan dalam bentuk jadi.
5. Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
6. Meningkatkan penalaran si belajar dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.

Tahap-tahap Penerapan Belajar Penemuan
1. Stimulus (pemberian perangsang/stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berfikir si belajar, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada si belajar untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan belajar kemudian memilih dan merumuskan dalam bentuk hipotesa (jawaban sementara dari masalah tersebut).
3. data Collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada para si belajar untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesa tersebut.
4. Data Processing (pengolahan data); yakni mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi dan lain-lain. Kemudian data tersebut ditafsirkan.
5. Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar dan tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan processing.
6. Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi. (Muhibbin Syah 1995, hal 245).

Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran
1. Sajikan contoh dan non contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Contoh :
- Misalnya dalam mengajarkan mamalia contohnya : manusia, ikan paus, kucing, atau lumba-lumba.
- Sedangkan non contohnya adalah ayam, ikan, katak atau buaya dan lain-lain.
2. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Contoh :
- Beri pertanyaan kepada si belajar seperti berikut ini “apakah ada sebutan lain dari kata “rumah”? (tempat tinggal) “dimanfaatkan untuk apa rumah?” (untuk istirahat, berkumpulnya keluarga dan lain-lain) adakah sebutan lainnya dari kata rumah tersebut?
3. Beri satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk berusaha mencari jawabannya sendiri.
Contoh :
- Bagaimana terjadinya embun?
- Apakah ada hubungan antara Kabupaten dan Kotamadya?
4. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.
Contoh :
- Beri si belajar suatu peta Yunani Kuno dan tanyakan di mana letak kota-kota utama Yunani.
- Jangan berkomentar terlebih dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berfikir dan mencari jawaban yang sebenarnya dan lain-lain. (Anita W. 1995)

Belajar Bermakna oleh Ausubel
David Ausubel banyak mencurahkan perhatiannya pada pentingnya mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna (meaningfull learning) dan belajar verbal yang dikenal dengan expository learning.
Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna akan terjadi apabila informasi yang baru diterima si belajar mempunyai kaitan erat dengan konsep yang sudah ada / diterima oleh siswa sebelumnyadan tersimpan dalam struktur kognitif. Namun informasi baru ini dapat saja diterima atau dipelajari siswa tanpa menghubungkannya dengan konsep atau pengetahuan yang sudah ada. Cara belajar seperti ini disebut belajar menghapal.

Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep
1. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan
3. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.
5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep seperti contoh berikut :

dapat dapat

Mengandung Mengandung

Dalam keadaan
Berubah

Meningkat karena

dapat dapat dapat

KESIMPULAN

1. Menurut Bruner ada tiga proses kognitif dalam belajar yaitu perolehan informasi baru, mentransformasikan informasi yang diterima dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
2. Faktor-faktor penting dalam belajar menurut Bruner yaitu pentingnya memahami struktur mata pelajaran, pentingnya belajar aktif dan pentingnya nilai berfikir induktif.
3. Hal-hal yang diperhatikan dalam pembelajaran yaitu pentingnya struktur bidang studi, kesiapan, intuisi dan motivasi.
4. Menurut Bruner cara menyajikan pelajaran harus disesuaikan dengan derajat berfikir anak. Ada tiga tahap berfikir anak yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik.
5. Ada dua pendekatan model belajar Bruner yaitu bahwa perolehan pengetahuan merupakan proses interaktif dan orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diterima sebelumnya.
6. Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna ini akan terjadi apabila informasi baru yang diterimanya mempunyai hubungan dengan konsep yang sudah ada dan diterima oleh siswa.

MODEL PEMBELAJARAN ROBERT GAGNE DAN MODEL “PERKEMBANGAN INTELEKTUAL” OLEH JEAN PIAGET

Robert Gagne (1977; Gagne & Driscoll, 1988) adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang telah memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya adalah teori Pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami belajar Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan (discovery) atau proses penerimaan (reception) sebagaimana yang dikenalkan oleh Bruner dan Ausubel, menurutnya yang terpenting adalah kualitas, penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Menurut Gagne ada 9 tahap pengolahan (proses) kognitif yang terjadi dalam belajar yang kemudian disebut “fase-fase belajar”. Fase-fase belajar ini kemudian digolongkan ke dalam (1) Fase persiapan untuk belajar, (2) Fase perolehan dan perbuatan, dan (3) Alih belajar. Fase-fase belajar ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan digunakan secara berlainan pada ragam belajar yang berlainan pula.
Bagaimana hubungan antara fase-fase belajar dan sembilan peristiwa pembelajaran, dapat dilihat melalui diagram di bawah ini :

Fase Belajar Peristiwa Pembelajaran

1. Memberi Perhatian

2. Menjelaskan tujuan belajar
pada siswa

3. Merangsang ingatan

4. Menyajikan materi
perangsang

5. Memberikan bimbingan
belajar

6. Menampilkan kemampuan

7. Memberi umpan balik
8. Menilai kemampuan

9. Meningkatkan retensi dan
transfer.

1. Membangkitkan perhatian. Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar siswa mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran.
2. Memberitahukan Tujuan Pembelajaran pada siswa. Agar siswa mempunyai pengharapan dan tujuan selama belajar maka pada siswa perlu dijelaskan tujuan apa saja yang akan dicapai selama pembelajaran dan jelaskan pula manfaat dari materi yang akan dipelajari bagi siswa dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran.
3. Merangsang ingata pada materi prasyarat. Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajaran guru perlu mengingatkan siswa tentang materi apa saja yang telah dikuasai sehubungan dengan materi yang akan diajarkan.
4. Menyajikan bahan perangsang. Menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci.
5. Memberi bimbingan belajar. Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus dicapainya pada akhir pelajaran.
6. Menampilkan unjuk kerja. Untuk mengetahui apakah siswa telah mencapai kemampuan yang diharapkan maka mintalah siswa untuk menampilkan kemampuannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru.
7. Memberikan umpan balik. Memberi umpan balik merupakan fase belajar yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik umpan balik diberikan secara informatif dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai siswa.
8. Menilai unjuk kerja. Merupakan peristiwa pembelajaran yang bertujuan untuk menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum.
9. Meningkatkan retensi. Peristiwa pembelajaran terakhir yang harus dilakukan guru adalah berupaya untuk meningkatkan retensi dan alih belajar.

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif
Menurut Jean Piaget perkembangan kognitif (kecerdasan) anak dibagi menjadi empat tahap yaitu tahap sensori motor, pre-operasional, konkrit operasional dan formal operasional. Tahapan ini hendaknya tidak dipandang sebagai hal yang statis. Setiap harinya perkembangan mental anak mengalami kemajuan sesuai dengan kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kematangan dan pengalaman yang cukup memungkinkan anak dapat mengembangkan struktur mental untuk menghadapi situasi yang dihadapi dengan cara yang lebih baik.
1. Tahap sensory-motor yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0 – 2 tahun.
2. Tahap pre-operasional yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2 – 7 tahun.
3. Tahap konkrit operasional, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada usia 7 sampai 11 tahun di mana seorang anak sudah mulai melakukan operasi.
4. Tahap Formal Operasi, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada usia 11 sampai 15 tahun, di mana anak mulai dapat berfikir pra operasional.

KESIMPULAN

Menurut Robert Gagne, belajar bukan merupakan proses yang tunggal melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, di mana tingkah laku merupakan hasil dari efek kumulatif dari belajar. Ia mendefinisikan belajar sebagai “Perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan”.
Menurut Jean Piaget, hakikat pengetahuan adalah interaksi yang terus menerus antara individu dan lingkungan.
Tahap perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui empat tahap yaitu taha sensory-motor, pre-operasional, konkrit operasional dan tahap formal operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bigge, Morris L., Hunt, Maurice P., 1980. Psychological Foundation of Education. An Introduction to Human Motivation, Development and Learning. New York Hagerstown, Philadelphia, San Francisco, London.

Suharsono, Naswan. Tiga Alternatif Pendekatan Pembelajarn : Tinjauan dari sudut pandang psikologi. Jurnal Teknologi Pembelajaran, Teori dan Penelitian No. 1-2, Oktober 1994. PPS IKIP Malang.

BELAJAR

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang berproses serta merupakan suatu unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Maka dengan hal ini para ahli membuat beberapa definisi tentang belajar yang berbeda karena dlilihat dari sudut pandangnya.

Berikut ini beberapa pendapat tentang belajar :

1. Skinner dalam Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: “The Teaching Learning Process” mengatakan bahwa Belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progressif.

2. Chaplin (1973) dalam Dictionary Psychology membatasi belajar dengan dua macam :

a. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

b. Belajar adalah proses memperoleh “respon” sebagai akibat adanya latihan khusus.

3. Hintzman (1987) dalam bukunya “The Psychology of Learning and Memory” berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada diri organisme, baik pada diri manusia maupun pada hewan yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

4. Wittig (1981) dalam bukunya “ Psychology of Learning” mengatakan : Belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai suatu hasil.

5. Reber (1989) dalam “Dictionary of Psychology”, Menurutnya ada dua definisi tentang belajar, yaitu :

a. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan.

b. Belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.

Dengan hal tersebut, proses belajar meliputi :

a. Perubahan yang secara umum menetap (Response permanent)

b. Kemampuan bereaksi (Response Potentially)

c. Dapat diperkuat (Reinforced)

d. Melalui Praktek dan Latihan (Practice)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan dalam Belajar

Salah satu tujuan dalam belajar adalah adanya perubahan tingkah laku. Tetapi dalam hal ini banyak yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar terbagi dua, yaitu :

a. Faktor Intern Belajar

Faktor intern belajar adalah faktor yang timbul dari dalam individu sendiri, hal ini antara lain kematangan, kecerdasan, motivasi dan minat belajar.

b. Faktor Ekstern Belajar

Faktor ekstern sangat erat kaitannya dengan lingkungan individu yang bersangkutan, di antaranya keadaan lingkungan keluarga, lingkungan sosial, guru serta fasilitas belajar.

Sesuai dengan faktor-faktor di atas, maka kekurangstabilan dalam belajar yang ditunjukkan oleh hasil belajar yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya :

1. Rendahnya kemampuan intelektual anak

2. Gangguan perasaan atau emosi

3. Kurangnya motivasi untuk belajar

4. Kurang matangnya anak untuk belajar

5. Usia yang terlampau muda

6. Latar belakang sosial yang tidak menunjang

7. Kebiasaan belajar yang kurang baik

8. Kemampuan mengingat yang rendah

9. Terganggunya alat-alat indera

10. Proses belajar mengajar yang tidak sesuai

11. Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.

a.1 Faktor Intern

- Kematangan

Sehubungan dengan usianya yang belum matang, maka sangatlah sulit untuk mengajarkan konsep ilmu filsafat kepada siswa Sekolah Dasar. Dengan hal ini pemberian materi akan tercapai apabila sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani siswa.

- Kecerdasan

Keberhasilan suatu individu mempelajari berbagai pengetahuan ditentukan pula oleh tingkat kecerdasannya.

- Motivasi

Motivasi merupakan dorongan untuk mengerjakan sesuatu. Dengan adanya motivasi yang datang dari individu tersebut maka akan tercipta keberhasilan belajar.

- Minat

Minat belajar dalam individu merupakan faktor yang sangat dominan dalam kegiatan belajar, karena apabila tidak ada minat yang tumbuh untuk belajar, maka pelajaran yang diterimanya akan menghasilkan ketidaksempurnaan.

b.1 Faktor Ekstern

- Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga sangatlah menentukan keberhasilan belajar. Status ekonomi, status sosial dan lingkungan keluarga ikut berperan dalam keberhasilan proses belajar. Suasana keluarga yang tentram akan menciptakan keharmonisan keluarga. Maka dengan keharmonisan ini anak cenderung lebih giat dalam belajar.

- Lingkungan Masyarakat

Peran masyarakat sangatlah mempengaruhi dalam kegiatan belajar. Hal-hal yang menyimpang dari lingkungan masyarakat akan mudah terserap oleh individu. Dengan hal ini siswa akan membandingkan pengalaman yang ia peroleh di lingkungan sekolah dengan pengalaman yang ia dapatkan di lingkungan masyarakat.

- Guru

Peran guru sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dan kepribadian guru sangat menentukan dalam keberhasilan belajar karena guru adalah sebagai motivator, sebagai fasilitator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan selama proses pendidikan berlangsung.

- Bentuk Alat Pelajaran

Bentuk alat pelajaran bisa berupa buku-buku pelajaran, alat peraga, alat-alat tulis dan lain-lain. Hal tersebut sangat berperan dalam proses belajar, karena proses belajar sangatlah ditunjang dengan alat-alat pelajaran.

- Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar dewasa ini sedang diupayakan oleh Pemerintah melalui Program Wajib Belajar Pendidikan 9 tahun yang mulai dicanangkan tahun pelajaran 1994/1995. Pencanangan program Wajib Belajar ini merupakan alternatif Pemerintah dalam memberikan kesempatan kepada para siswa terutama bagi mereka yang orang tuanya berekonomi lemah/kurang mampu.

Cara Mengatasi Kesulitan dalam Proses Belajar

Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Di bawah ini adalah langkah-langkah dalam mengatasi kesulitan belajar.

1. Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar

2. Menelaah/menetapkan status siswa

3. Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar.

1. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar

Mengidentifikasi atau menandai munculnya kesulitan belajar memerlukan keterampilan khusus. Kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belaka tentu kurang efektif jika dibandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman. Dalam hal ini guru perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang tahap-tahap perkembangan anak, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan intelektual yang lain, perkembangan emosional, dan sosial serta perkembangan motorik.

2. Menelaah/Menetapkan Status Siswa

Setelah guru mengidentifikasi munculnya kesulitan belajar pada siswa, selanjutnya guru mengadakan penelitian terhadap siswa dengan jalan menelaah / menetapkan status siswa.

Penelaahan dan penetapan status siswa dilakukan dengan menempuh cara-cara sebagai berikut :

a. Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan oleh siswa.

b. Menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus tersebut oleh siswa yang bersangkutan dengan menggunakan teknik dan alat penilaian yang tepat.

c. Menetapkan pola pencapaian siswa, yaitu seberapa jauh ia berada dari tujuan yang ditetapkan itu.

3. Memperkirakan Sebab Kesulitan Belajar

Berdasarkan status siswa pada tahap II, tibalah saatnya untuk memperkirakan sebab munculnya kesulitan belajar. Dengan hal ini maka hendaklah seorang guru menyadari bahwa belajar itu adalah suatu perbuatan yang sangat kompleks yang keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang telah diuraikan tadi.

Dengan ketentuan di atas, maka di bawah ini ada beberapa alternatif dalam mengatasi kesulitan belajar.


1. OBSERVASI KELAS

Pada tahap ini observasi kelas dapat mengurangi kesulitan belajar, misalnya dengan memeriksa kondisi kelas yang dijadikan proses berlangsungnya belajar. Misalnya kondisi kelas yang nyaman dan tenang serta sehat akan memacu motivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi.

2. PEMERIKSAAN ALAT INDERA

Dalam hal ini difokuskan pada tingkat kesehatan siswa, khususnya mengenai alat indera. Diupayakan dalam waktu satu bulan sekali pihak sekolah melakukan pemeriksaan kesehatan siswa ke Puskesmas/dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula.

3. WAWANCARA

Wawancara dengan orang tua siswa sangatlah perlu dilakukan untuk mengetahui hal-hal dalam keluarga yang barangkali mempengaruhi pencapaian akademis siswa.

4. TES DIAGNOTIS KECAKAPAN

Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan intelektual (IQ) siswa. Siswa yang dianggap tergolong dalam kelompok yang mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang IQ-nya normal atau di atas normal. Sedangkan siswa yang IQ-nya rendah atau di bawah normal digolongkan pada lemah mental atau tuna grahita.

Memberikan tes diagnostik dalam bidang keterampilan akademik tertentu adalah untuk melihat hakikat masalah yang dihadapi siswa.

Uraian di atas, maka hendaklah disadari oleh para pendidik/pengajar agar tidak ada lagi kendala atau hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu, tingkat kedisiplinan yang diterapkan di sekolah dapat menunjang proses belajar.