Dienul Islam

A. Pengertian Agama

Tidak ada definisi agama yang dapat diterima secara umum. Para filosof, sosiolog, psikolog, para theolog dan lain-lainnya telah merumuskan definisi agama menurut caranya masing-masing, karena hal itu merupakan hal yang cukup sulit. Menurut Mukti Ali paling sedikit ada tiga alasan dalam hal ini :

1. Karena pengalaman agama itu adalah soal bathin dan subjektive yang sangat individualistis.

2. Tidak ada orang berbicara begitu semangat dan emosional lebih daripada membicarakan agama, jadi selalu ada emosi yang kuat sekali hingga sulit memberikan arti kalimat agama itu.

3. Konsepsi tentang agama akan dipengaruhi oleh tujuan yang memberikan pengertian tentang agama itu.

Agama secara bahasa identik dengan bahasa Inggris = Religion, bahasa Belanda = Religi (berasal dari bahasa Latin), bahasa Arab = Din (Aturan, jalan syariat). Dapat juga diartikan mengumpulkan dan membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdikan diri kepada Tuhan yang dibaca dari sebuah kumpulan berbentuk kitab suci.

Ditinjau dari bahasa Sankrit : A = tidak, gama = kacau/pergi. Jadi Tidak Pergi, artinya tetap ditempat diwarisi turun temurun.

Secara Terminologi Harun Nasution memberikan definisi-definisi sebagai berikut :

1. Pengakuan adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.

2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.

3. Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan manusia.

4. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib.

5. Kepercayaan kepada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.

6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber dari kekuatan ghaib.

7. Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat pada alam sekitar manusia.

8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

Walaupun tidak ada definisi yang sempurna dari religion, namun ada bentuk-bentuk yang mempunyai ciri khas dari aktivitasnya, yaitu :

a. Kebaktian

b. Kebiasaan antara yang sakral dan prefan.

c. Kepercayaan terhadap jiwa.

d. Kepercayaan terhadap dewa-dewa atau Tuhan.

e. Penerimaan atas wahyu yang supernatural.

f. Pencarian keselamatan.

Unsur-unsur penting yang ada dalam agama (menurut Harun Nasution)

1. Kekuatan Ghaib : Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat kepada kekuatan ghaib tersebut sebagai tempat meminta tolong.

2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia dan kehidupannya di akhirat tergantung pada adanya hubungan dengan kekuatan ghaib dimaksud.

3. Respon yang bersifat emosional dari manusia.

4. Paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan ghaib, dalam kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan dan dalam bentuk-bentuk tempat tertentu.

Pengertian Religion dalam arti luas yang dikutip oleh E.S. Ansari adalah :

a. Penerimaan atas tata aturan daripada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri.

b. Seperangkat makna dan kelakuan yang berasal dari individu-individu yang religius.

Menurur Purwadarminta, Agama adalah merupakan segenap kepercayaan kepada Tuhan, dewa dan sebagainya dan kebaktian serta kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.

Adanya kepercayaan ini sudah berlangsung lama, bahkan sejak jaman pra sejarah, sehingga dalam hal ini para ilmuwan mengelompokkan menjadi empat kelompok, antara lain :

1. Agama-agama Pra Sejarah

2. Agama-agama primitif

3. Agama-agama kuno

4. Agama-agama yang masih dianut oleh penduduk dunia masa sekarang.

Dari uraian pengertian Agama di atas, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa agama pada dasarnya merupakan suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang memiliki akal untuk memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendak sendiri untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan kelak di akhirat.

Dari pengertian di atas, ternyata dari segi hakikat, Islam adalah agama semesta, karena Islam maknanya ialah berserah diri dan patuh kepada perintah yang memberi perintah dan larangannya tanpa membantah, sebagaimana tunduknya makhluq-makhluq lainnya seperti bumi, bulan, matahari, mereka itu adalah muslim.

B. Ruang Lingkup dan Pembidangan

Secara umum ruang lingkup suatu agama meliputi unsur-unsurnya sebagai berikut :

1. Substansi yang disembah

Dalam setiap agama, esensi dari keagamaan adalah penyembahan pada sesuatu yang dianggap berkuasa. Substansi yang disembah menjadi pembeda dalam kategorisasi agamanya, ada yang memusyrikan Allah dan ada yang mentauhidkan Allah.

2. Kitab Suci

Kitab suci merupakan salah satu ciri khas dari agama. Bila suatu agama tidak memiliki kitab suci, maka sulit dikatakan sebagai suatu agama.

3. Pembawa Ajaran

Pembawa ajaran suatu Agama Samawi disebut Nabi (Rasul) yang menerima wahyu dari Allah SWT. untuk disampaikan kepada masyarakat berdasarkan wahyu yang diterimanya. Dalam Agama Tabi’i, proses kenabian kadang-kadang melalui proses evaluasi yang dihasilkan berdasarkan sebuah julukan yang sengaja dikatakan untuk (sebagai) penghormatan tanpa adanya pengakuan berdasarkan wahyu dari Allah SWT.

4. Pokok-pokok Ajaran

Setiap Agama baik Samawi maupun Tabi’i mempunyai pokok-pokok ajaran atau prinsip ajaran yang wajib diyakini bagi pemeluknya. Pokok ajaran ini sering disebut dengan Dogma, yaitu setiap ajaran baik percaya atau tidak, bagi pemeluknya wajib untuk mempercayainya.

5. Aliran-aliran

Setiap agama yang ada di dunia ini baik Samawi maupun Tabi’i memiliki aliran-aliran yang berkembang pada agama masing-masing yang diakibatkan karena adanya perbedaan pendapat/pandangan baik perorangan maupun kelompok yang mengakibatkan timbulnya suatu aliran yang masing-masing kelompok memperkuat paham kelompoknya. Dalam Islam perbedaan merupakan rahmat, sedangkan dalam agama selain Islam dapat berubah pada masalah-masalah pokok, seperti berubahnya paham ketuhanan dalam agama tauhid menjadi agama musyrik ( syirik kepada Allah SWT.)

Pembidangan

Agama ditinjau dari sumbernya :

1. Ciptaan manusia = Agama budaya – Ardi / Tabi’i yaitu agama yang tidak memandang esensial penyerahan manusia kepada tata aturan Ilahi.

2. Agama Wahyu, yang diwahyukan Allah SWT., yaitu agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, Rasul-rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Yang tergolong Agama Wahyu menurut Al Masdoosi adalah Yudaisme, Kristen dan Islam. Selebihnya termasuk agama non wahyu. Agama-agama Wahyu (revealed religions) bersangkutan dengan ras semistik. Sedangkan agama-agama bukan wahyu (non revealed religions) tidak ada sangkutan dengan ras semistik.

Ada juga yang menggolongkan Agama kepada : Agama Missionary dan Agama Non Missionary. Seperti dikutip Ansari yang memasukkan Budhisme, Kristen dan Islam pada golongan Agama Missionary. Sedangkan Yudaisme, Brahmanisme dan Zoroasterianisme digolongkan pada non missionary.

Sehubungan dengan penggolongan di atas, Al Masdoosi berpendapat bahwa, baik agama Nasrani maupun Budhisme, ditinjau dari segi ajarannya yang asli bukanlah tergolong agama missionary, sebagaimana juga agama-agama yang lainnya (selain Islam). Jadi menurut Al Masdoosi hanya Islam sajalah yang ajarannya masih asli dan merupakan Agama Missionary. Dalam hal ini, pendapat Al Masdoosi dapat dijadikan rujukan, berdasarkan pada pemikiran bahwa ajaran agama yang terjaga keasliannya sampai hari ini dan masa yang akan datang hanyalah Agama Islam.

Ditinjau dari segi rasial dan geografikal, agama-agama yang ada di dunia ini dapat dibagi atas : a. Semistik, b. Arya, dan c. Monggolian. Yang termasuk ajaran Semistik ialah : Agama Yahudi, Agama Nasrani dan Agama Islam. Sedangkan yang tergolong agama Arya ialah : Hinduisme, Jainisme, Sikhisme dan Zoroaterianisme. Sedangkan yang tergolong non Semistik Monggolian ialah : Confusianisme, Taoisme dan Shintoisme. Adapun Budhisme, ada yang menggolongkan kepada Non Semistik Arya, melainkan campuran antara Arya dan Monggolian.

Ada juga yang menggolongkan Agama kepada Agama Samawi dan bukan Samawi. Ada pula yang membaginya itu ke dalam penyebutan agama Samawi/Kitabi, dan Paganis (Watsaniah) atau agama positif (Wadh’iyah). Adapun mengenai Agama Samawi perlu ditambahkan penjelasannya di sini bahwa, Agama Samawi itu pada dasarnya satu dengan prinsip dasar akidah, meskipun berbeda-beda syariatnya berdasarkan kondisi zamannya. Inilah yang dijelaskan oleh Al-Quran (Firman Allah SWT.) yang artinya berikut ini :

“Dan telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya “ (QS. Asy-Syu’ara : 13).

Maka dari itu seluruh Rasul adalah seorang Muslim dan menyerukan Agama Islam (QS. Ali Imran : 67).

Selanjutnya pandangan Agama Islam terhadap agama lain/terhadap pemeluk agama lain digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :

1. Golongan Ahli Zimmah : Golongan yang mendapat jaminan Tuhan dalam hak dan hukum negara. Terhadap golongan ini berlaku hukum dan hak yang sama dengan kaum muslimin, antara lain : Hak perlindungan, perlindungan nyawa, badan dan kehormatan.

2. Golongan Musa’man : Pemeluk agama lain yang meminta perlindungan keselamatan jiwa dan hartanya. Terhadap golongan ini tidak dilakukan hak dan hukum negara, tetapi mereka wajib dilindungi.

3. Golongan Mu’ahad : Golongan yang mengadakan perjanjian dengan orang Islam baik disertai tolong menolong, bela membela atau tidak.

4. Golongan Harbi : Golongan yang mengganggu keamanan dan ketertiban. Bagi golongan ini umat Islam diizinkan melawan.

Pembidangan dalam Agama Islam

Bidang-bidang dalam Agama Islam secara garis besarnya meliputi tiga hal, yaitu : Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq. Berikut ini adalah uraiannya.

1. Aqidah

Kata Aqidah berasal dari kata Aqada – yuaqidu – aqdan atau aqidatan yang berarti mengikatkan. Sedangkan secara istilah pengertian Aqidah sering disamakan dengan pengertian keimanan. Sayyid Sabiq mengajukan enam pengertian dalam mendefinisikan Aqidah atau Keimanan, yaitu :

a. Makrifat kepada Allah SWT., makrifat dengan nama-nama-Nya yang Tinggi.

b. Makrifat terhadap alam yang ada di balik alam semesta ini.

c. Makrifat terhadap kitab-kitab Allah SWT.

d. Makrifat terhadap Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang dipilih Allah SWT.

e. Makrifat terhadap hari akhir dan peristiwa yang berkaitan dengan itu, seperti kebangkitan dari kubur (hidup sesudah mati).

f. Makrifat terhadap taqdir (qadha dan qadar).

Memperhatikan uraian di atas, tampaklah bahwa aqidah identik dengan rukun Iman yang enam dan sesuai dengan kandungan ayat berikut ini :

“Hai orang-orang yang beriman, yakinlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang diturunkan-Nya terdahulu. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat jalan sejauh-jauhnya “. (QS. An-Nisa : 136).

2. Syari’ah

Dalam konteks kajian hukum Islam, yang dimaksud syari’ah adalah kumpulan norma hukum yang merupakan hasil dari Tasyri’. Kata Tasuri’ juga merupakan bentuk masdar dari Syariah, yang berarti menciptakan dan menetapkan syariah. Sedang dalam istilah para ulama fiqih syariah bermakna “menetapkan norma-norma hukum untuk menata kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, maupun dengan umat manusia lainnya”. Oleh karena itu dengan melihat pada subyek penetapan hukumnya, para ulama membagi Tasyri’ menjadi dua, yaitu : Tasyri’ Samawi (Ilahi) dan Tasyri’ Wadh’i. Tasyri’ Ilahi adalah penetapan yang dilakukan langsung oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam Al-Quran dan As-Sunah ketentuan-ketentuan tersebut bersifat abadi dan tidak berubah, karena tidak ada yang kompeten untuk mengubahnya selain Allah SWT.

Sedangkan Tasyri wadh’i adalah ketentuan hukum yang dilakukan langsung oleh para mujtahid. Ketentuan-ketentuan hukum hasil kajian mereka ini tidak memiliki sifat keabadian dan bisa berubah-ubah karena merupakan hasil kajian nalar para ulama yang tidak ma’sum sebagaimana Rasulullah SAW.

Syari’ah mencakup dua hal, yaitu : aspek ibadah dan aspek muamalah. Yang dimaksud dengan ibadah ialah mengetahui ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan penghambaan seorang mukallaf kepada Allah SWT. sebagai Tuhannya. Sedangkan pengertian muamalah dapat ditelusuri dari kajian fiqih muamalah yang mencakup pembahasan tentang ketentuan-ketentuan hukum mengenai kegiatan perekonomian, amanah dalam bentuk titipan dan pinjaman, ikatan kekeluargaan, proses penyelesaian perkara lewat pengadilan dan termasuk juga masalah distribusi harta warisan.

3. Akhlaq

Secara etimologi, bahwa kata akhlaq berasal dari Bahasa Arab yang berarti Budi Pekerti. Sinonimnya Etika dan Moral. Etika berasal dari bahasa Lain, etos yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari bahasa Latin, juga berarti kebiasaan. Dalam Masyarakat Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah budi pekerti.

Kata Akhlaq yang berasal dari kata Khulqun atau Khuluqun mengandung segi-segi persesuaian dan erat hubungannya dengan Khaliq dan makhluq. Karena memang akhlaq juga mengatur hubungan (tata hubungan) manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam semesta. Untuk lebih memperluas pengertian akhlaq, berikut ini dikemukakan pengertian akhlaq menurut para ahli, antara lain :

a. Ibnu Maskawaih dalam bukunya Tahdzibul Akhlaq wa Tathhirul a’raq mengemukakan bahwa Khuluq, perangai itu adalah keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikirannya.

b. Al-Ghazali sejalan dengan Ibnu Maskawaih di atas, dalam bukunya Ihya Ulumuddin, mengemukakan bahwa Khuluq, perangai adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang daripadanya timbul perbuatan – perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran.

c. Ahmad Amin dalam bukunya Al-Akhlaq mengemukakan bahwa khuluq ialah membiasakan kehendak.

Perlu juga dikemukakan di sini tentang istilah lain yang sering digunakan dalam konteks istilah akhlaq, yaitu adah dan iradah. Adah adalah perbuatan yang diulang-ulang sedang mengerjakannya dengan syar’iat, ada kecenderungan hati kepadanya. Sedang Iradah adalah menangnya keinginan manusia setelah dia bimbang.

C. Islam Sebagai Agama

Islam adalah satu-satunya agama Samawi yang ada dan asli, karena agama Nasrani dan agama Yahudi sudah tidak murni lagi dan keluar dari bentuknya yang asli sebagai agama Samawi. Yahudi dan Nasrani dalam bentuknya yang asli dahulu menurut pandangan Al-Quran adalah Islam. Bahkan menurut Al-Quran, agama yang dianut oleh semua Nabi-Nabi Allah itu seluruhnya adalah Agama Islam. Memang cukup banyak bukti bahwa ayat Al-Quran yang mendukung pernyataan di atas, antara lain QS. 2 : 130-131 dan 136, QS. 10 : 72, QS. 12 : 101, QS. 10 : 84, QS. 3 : 52, QS. 4 : 163 – 165.

Dari rangkaian ayat-ayat termaktub di atas, maka jelas dan tegaslah bahwa menurut Al-Quran, Islam adalah satu-satunya agama murni Samawi sepanjang masa dan setiap persada. Sebagai sebuah agama, Islam memenuhi unsur-unsur antara lain :

a. Sebagai satu sistem Credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang muthlak di luar manusia.

b. Sebagai satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya yang mutlak itu.

c. Di samping merupakan satu sistem yang Credo dan sistem ritus, juga merupakan suatu sistem norma (tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaktub di atas).

Menurut Taufiqullah, secara etimologi, Islam berasal dari Bahasa Arab. Berasal dari kata Salima yang berarti selamat sentosa. Pendapat itu dipegangi oleh hampir semua ahli, khususnya para ulama Islam. Selanjutnya kata Salima di atas, dibentuk Muta’adi (transitif) menjadi Aslama yang berarti memelihara diri, tunduk patuh dan taat. Orang yang melakukan Aslama atau masuk Islam dinamakan Muslim. Berarti orang itu telah menyatakan dirinya telah taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah SWT. Dengan melakukan Aslama, selanjutnya orang itu terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Firman Allah SWT.

“Bahkan siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 112)

Islam adalah agama yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya guna diajarkan kepada manusia. Ia dibawa secara kontiniumdari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ia adalah Rahmat, hidayah dan petunjuk bagi manusia yang berkelana dalam kehidupan duniawi, sebagia perwujudan dari sufat rahman dan rahim Allah SWT. Ia juga merupakan agama yang telah sempurna (penyempurna) terhadap agama (syari’at-syari’at) yang ada sebelumnya.

Sebelum masa risalah Muhammad SAW. Islam masih bersifat lokal. Ia hanya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan daerah tertentu, dan terbatas pada periodenya. Selanjutnya Islam yang datang ke pangkuan Nabi Muhammad SAW. merupakan agama universal, berlaku untuk seluruh bangsa dan dunia. Firman Allah SWT. yang artinya : “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Dalam ayat lain dijelaskan bahwa “ Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Di samping itu, universalitas agama Islam tidak hanya menyangkut masalah duniawi, tetapi juga masalah ukhrawi. Agama harus mengurus secara langsung pengaturan duniawi dan spiritual perorangan atau kelompok dan tidak mengurus perantara-perantara pendeta yang memiliki monopoli keagamaan. Islam adalah mutlak, yang suci dan rasional, dan nama Islam mengandung makna kebenaran universal, ajaran Allah SWT. yang hak yang berlaku di manapun juga.

Islam sebagai agama mempunyai makna bahwa Islam memenuhi tuntutan kebutuhan manusia di mana saja berada sebagai pedoman hidup baik bagi kehidupan duniawi maupun bagi kehidupan sesudah mati. Dimensi ajaran Islam memberikan aturan bagaimana caranya berhubungan dengan Tuhan atau Khaliqnya, serta aturan bagaimana caranya berhubungan dengan sesama makhluq, termasuk di dalamnya persoalan hubungan dengan alam sekitar atau lingkungan hidup.

D. Program Syari’at Islam

Garis-garis besar Program Syari’at Islam yaitu :

1. Hifdzul Aqli, yakni pembinaan dan pemeliharaan dan kesehatan akal dan kecerdasan masyarakat.

2. Hifdzun Nafsi, yakni pembinaan dan pemeliharaan keselamatan jiwa dan nilai-nilai kejiwaan.

3. Hifdzul Mali, pemeliharaan harta, yakni pemerataan kesejahteraan materil.

4. Hifdzun Nasb, pemeliharaan keturunan, yakni pembinaan generasi.

5. Hifdzun Dien, yakni pemeliharaan agama dan ketertiban hidup dan kehidupan.

Menurut Taufiqullah, Islam memang memiliki beberapa daya kemampuan untuk terciptanya perdamaian dunia dalam membimbing hidup manusia yang penuh persaingan, karena :

1. Islam menegakkan kesatuan umat manusia tanpa memandang darah, warna kulit dan kebangsaan serta golongan-golongan yang membawa ketidak adilan. Dunia ini milik Tuhan yang harus dimanfaatkan secara merata bagi seluruh makhluq-Nya.

2. Islam mendorong kemajuan berfikir untuk membudayakan alam ini dengan pengintegrasian antara akal, wahyu serta alam ini, sebagai tugas amanah kekhalifahan untuk mengurus dunia, di dalam Islam tidak ada kontradiksi antara wahyu Ilahi dan rasio.

3. Islam adalah agama yang Balance (seimbang), tidak lebih menitik beratkan kepada kehidupan akhirat, tetapi seimbang antara dunia dan akhirat, sebab dunia ini sebagai jembatan ke akhirat dan prestasi di dunia menentukan derajat kedudukan di akhirat.

4. Islam memiliki atau membawa pokok-pokok ajaran atau prinsip-prinsip dalam segala bidang kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, keluarga, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan kejasmanian yang ditopang dengan kekuatan Ijtihad (kreasi) untuk memenuhi tuntutan zaman.

5. Ajaran Islam dapat dibuktikan dan dipertahankan keaslian dan kemurniannya secara ilmiah sebagai sesuatu yang datang dari Allah SWT. Dengan demikian ajaran Islam bisa menumbuhkan keyakinan yang kuat tanpa menumbuhkan keraguan untuk membina disiplin hidup manusia.

6. Islam mengajarkan agar manusia hidup untuk berjuang, melaksanakan amanat Allah SWT. Bagi orang Islam, hidup ini untuk berjuang atau “Life for Struggle”, bukan berjuang untuk hidup (Struggle for Life).

Mengakhiri program syari’at Islam ini, di sini digambarkan konsep hidup menurut ajaran Islam, sebagaiaman terlihat dalam skema berikut ini :

KONSEP HIDUP MENURUT AJARAN ISLAM

Status

Fungsi

Perlengkapan Hidup

Kerangka Hidup

1. Khalifah

2. Abid

1. Khlaifah

2. Ibadah

1. Wahyu

2. Akal

1. Hablum Minallah

2. Hablum Minannas

3. Hablum Min ‘Alam

Aspek Ajaran

Sasaran

Tujuan

1. Aqidah

2. Ibadah

3. Akhlaq

4. Pendidikan

5. Politik

6. Sosial

7. Ekonomi

8. Kesehatan

9. Kesejahteraan

10. Kebudayaan

1. Kreatif

2. Dedikasi

3. Komitmen

4. Shabar

5. Baldah Thoyyibah

6. Taat kepada :

- Allah SWT.

- Rasul

- Ulil Amri

Memperoleh Mardhatillah/ Fiddunya Hasanah wa fil akhirati Hasanah.

E. Islam Sebagai Agama Terakhir

Sebagai agama terakhir, Islam merupakan agama yang universal seperti tersebut di atas, bahwa Islam memenuhi unsur-unsur sebagai agama dunia dan agama kemanusiaan, seperti dikemukakan oleh Hasbi Ash Shiddiqi dan dikemukakan kembali oleh Abuy Shadikin dengan unsur pokoknya yaitu :

Pertama, mempunyai daya hidup sepanjang masa, berkembang dan dapat terus berjalan melalui perkembangan sejarah dari masa ke masa sampai akhir zaman.

Kedua, Mempunyai daya cakup dan melengkapi segala kebutuhan kemanusiaan dalam bidang hukum dan tata aturan.

Islam sebagai agama dibuktikan oleh sejarah sebagia satu-satunya agama yang universal. Ajarannya mempunyai ruang lingkup yang mampu memberikan jawaban terhadap segala persoalan manusia dan kemanusiaan. Dalam ajaran agama Islam segala aturan dan tata nilai serta pedoman bagi hidup dan kehidupan manusia berasal dari kitab suci. Menurut Hidayat Nataatmaja sebagaimana dikemukakan Abuy Shadikin, bahwa sebagai suatu agama terakhir, agama Islam mempunyai watak ajaran yang lengkap, yakni :

1. Islam adalah agama universal bagi seluruh umat manusia di semua tempat, sedangkan agama-agama sebelumnya diturunkan untuk suatu umat bangsa/suku bangsa tertentu.

2. Islam adalah agama terakhir yang syari’atnya menyempurnakan syari’at-syari’at yang dibawa para Nabi sebelumnya serta sifatnya abadi, tidak akan ada lagi syari’at yang diturunkan sesudahnya.

3. Islam membawa prinsip tadrij dalam melaksanakan ajaran-ajarannya, yaitu prinsip setingkat demi setingkat, seperti mengharamkan minuman keras ke dalam tiga tingkatan.

4. Islam membawa nilai-nilai yang universal, sedangkan pelakasanaannya dalam sistem dan pola sosial budaya manusia adalah diserahkan kepada kreativitas umat manusia. Tampilnya Nabi Muhammad SAW. sebagai Nabi dan Pemimpin serta Kepala Negara Bangsa Arab harus dilihat dari dua segi :

a. Sebagai Nabi dan Rasul, maka Nabi Muhammad SAW. adalah penyampai risalah.

b. Islam memotivasi bangsa Arab / suku-suku bangsa Arab yang masyarakatnya berkembang menjadi nation yang bebas merdeka. Dalam hal ini beliau bertindak sebagai pemimin yang membawa bangsanya kepada taraf perkembangan sosial yang lebih tinggi.

5. Appeal dari ajaran Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin selalu mendorong kepada kesejahteraan seluruh umat manusia baik muslim maupun non musli,.

Memperjelas uraian tentang Islam sebagai agama terakhir, di bawah ini disertakan contoh dalil naqli sebagai berikut :

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

(Islam sesuai dengan perkembangan budaya, menyempurnakan syari’at terdahulu dan abadi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s