TEORI BELAJAR

TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA

Teori belajar kognitif agak berbeda dengan teori behavioristik dalam pemahamannya tentang belajar. Menurut ahli psikologi kognitif ada sesuatu yang penting tidak ditemukan dari konsep “Operant-conditioning” yaitu apa yang sebetulnya terjadi di dalam diri seseorang pada saat belajar. Misalnya tentang bagaimana terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Semua pendekatan teori belajar prilaku tampaknya kurang mengindahkan proses-proses mental yang terjadi selama proses belajar seperti persepsi siswa, pemahaman dan kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur yang terjadi dalam situasi belajar. Ahli belajar kognitif memandang bahwa belajar bukan semata-mata proses perubahan tingkah laku yang tampak, namun sesuatu yang komplek yang sangat dipengaruhi oleh kondisi mental si belajar yang tidak tampak, oleh karenanya dalam pembelajaran di kelas seorang guru perlu memperhatikan kondisi siswa yang berhubungan dengan persepsi, perhatian , motivasi dan lain-lain.

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Teori Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif ini sangat erat hubungan dan berasal dari teori kognitif dan teori psikologi.
Tujuan dari teori psikologi adalah untuk membentuk hubungan yang teruji, yang teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka secara spesifik sesuai situasi psikologisnya. Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami orang lain, terutama muridnya. Ternyata hal ini dapat membantu si guru untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dalam teori kognitif belajar diartikan proses interaksional di mana seseorang memperoleh insight baru atau struktur kognitif dan merubah hal-hal yang lama.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi prinsip-prinsip belajar secara ilmliah yang dapat diterapkan ke situasi kelas dengan menghasilkan prosedur-prosedur di kelas untuk mendapatkan hasil yang paling produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungan psikologisnya merupakan faktor-faktor yang saling tergantung satu dan lainnya. Teori ini dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatar belakangi prilaku, cita-cita, cara-cara seseorang dan bagaimana seseorang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan orang tersebut. Setiap pengertian yang diperoleh berdasarkan pengertian yang diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya yang disebut insight.

2.2 Apakah Insight ?
Menurut teori ini insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahami masalah. Jadi insight adalah inti dari pemahaman.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain.

2.3 Temuan
Pendekatan Kognitif sudah sejak lama diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Selama perkembangannya ada empat model teori kognitif yang paling berpengaruh di dunia pendidikan dewasa ini, yaitu :
1) Teori belajar Bruner dengan model belajar penemuan.
2) Teori belajar Ausubel dengan model belajar bermakna
3) Teori belajar Robert Gagne dengan model pemrosesan informasi
4) Teori “Perkembangan Intelektual” JeanPiaget .

Masing-masing teori dan model mempunyai dasar pemikiran dan pandangan yang berbeda mengenai hakikat belajar dan bagaimana seharusnya pembelajaran dilaksanakan.

KESIMPULAN

Menurut teori belajar kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang di pilih untuk kepentingan dirinya.
Teori kognitif berhubungan dan berasal dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaiman seseorang memperoleh pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis membahas masalah hubungan atau uteraksi antara orang dan lingkungan psikologisnya secara bersamaan. Psikologi kognitif menekankan arti penting proses internal atau proses-proses mentak.
Menurut teori belajar kognitif merupakan proses-proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Adapun tujuan dari teori ini adalah :
1. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruangan kehidupan mereka sendiri secara spesifik sesuai situasi psikologisnya.
2. Membantu guru untuk memahami orang lain terutama muridnya dan membantu dirinya sendiri.
3. Mengkonstruksi prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
4. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa dirinya dan lingkungannya merupakan faktor yang saling tergantung satu sama lain.
Insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Dapat juga dikatakan insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahaminya. Insight terjadi dengan melihat kasus-kasus/kejadian yang terpisah kemudian menggeneralisasikannya dan timbul pemahaman. Perbedaan pandangan teori kognitif dan teori conditioning stimulus-respon adalah :
– Teori kognitif menekankan pada fungsi-fungsi psikologis
– Teori kognitif berfokus pada situasi saat ini
– Berinteraksinya orang dan lingkungan

Prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain.

Model teori belajar kognitif yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan adalah model belajar penemuan oleh Bruner, model belajar bermakna oleh Ausubel, model pemrosesan informasi dan model peristiwa pembelajaran oleh Rober Gagne dan model “perkembangan intelektual” oleh Jean Piaget.

MODEL TEORI BELAJAR BRUNER DAN AUSUBEL

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif (1915) yang memberi dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir.

Pendekatan Model Belajar Bruner
Pendekatan model belajar Bruner ini didasarkan pada dua asumsi, bahwa :
a. Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya pengetahuan akan diperoleh si belajar bila dalam pembelajaran yang bersangkutan berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Pendekatan interaktif ini tidak saja menguntungkan dan memberi perubahan pada si belajar tetapi juga bepengaruh dan memberi perubahan pada lingkungan di mana dia belajar.
b. Orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diperoleh sebelumnya. Dalam beljar hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberi arti. Dengan demikian setiap orang mempunyai model atau kekhususan dalam dirinya, untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal yang telah diketahuinya. Dengan model ini seseorang dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan pengetahuan baru ke dalam struktur yang telah dimiliki, sehingga memperluas struktur yang telah dimilikinya atau mengembangkan struktur baru.

Manfaat Belajar Penemuan
1. Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2. Pengetahuan yang diperoleh si belajar akan tertinggal lama dan mudah diingat.
3. Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan dalam belajar agar si belajar dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterima.
4. Transfer dapat ditingkatkan di mana generalisasi telah ditemukan sendiri oleh si belajar daripada disajikan dalam bentuk jadi.
5. Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
6. Meningkatkan penalaran si belajar dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.

Tahap-tahap Penerapan Belajar Penemuan
1. Stimulus (pemberian perangsang/stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berfikir si belajar, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada si belajar untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan belajar kemudian memilih dan merumuskan dalam bentuk hipotesa (jawaban sementara dari masalah tersebut).
3. data Collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada para si belajar untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesa tersebut.
4. Data Processing (pengolahan data); yakni mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi dan lain-lain. Kemudian data tersebut ditafsirkan.
5. Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar dan tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan processing.
6. Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi. (Muhibbin Syah 1995, hal 245).

Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran
1. Sajikan contoh dan non contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Contoh :
– Misalnya dalam mengajarkan mamalia contohnya : manusia, ikan paus, kucing, atau lumba-lumba.
– Sedangkan non contohnya adalah ayam, ikan, katak atau buaya dan lain-lain.
2. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Contoh :
– Beri pertanyaan kepada si belajar seperti berikut ini “apakah ada sebutan lain dari kata “rumah”? (tempat tinggal) “dimanfaatkan untuk apa rumah?” (untuk istirahat, berkumpulnya keluarga dan lain-lain) adakah sebutan lainnya dari kata rumah tersebut?
3. Beri satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk berusaha mencari jawabannya sendiri.
Contoh :
– Bagaimana terjadinya embun?
– Apakah ada hubungan antara Kabupaten dan Kotamadya?
4. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.
Contoh :
– Beri si belajar suatu peta Yunani Kuno dan tanyakan di mana letak kota-kota utama Yunani.
– Jangan berkomentar terlebih dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berfikir dan mencari jawaban yang sebenarnya dan lain-lain. (Anita W. 1995)

Belajar Bermakna oleh Ausubel
David Ausubel banyak mencurahkan perhatiannya pada pentingnya mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna (meaningfull learning) dan belajar verbal yang dikenal dengan expository learning.
Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna akan terjadi apabila informasi yang baru diterima si belajar mempunyai kaitan erat dengan konsep yang sudah ada / diterima oleh siswa sebelumnyadan tersimpan dalam struktur kognitif. Namun informasi baru ini dapat saja diterima atau dipelajari siswa tanpa menghubungkannya dengan konsep atau pengetahuan yang sudah ada. Cara belajar seperti ini disebut belajar menghapal.

Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep
1. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan
3. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.
5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep seperti contoh berikut :

dapat dapat

Mengandung Mengandung

Dalam keadaan
Berubah

Meningkat karena

dapat dapat dapat

KESIMPULAN

1. Menurut Bruner ada tiga proses kognitif dalam belajar yaitu perolehan informasi baru, mentransformasikan informasi yang diterima dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
2. Faktor-faktor penting dalam belajar menurut Bruner yaitu pentingnya memahami struktur mata pelajaran, pentingnya belajar aktif dan pentingnya nilai berfikir induktif.
3. Hal-hal yang diperhatikan dalam pembelajaran yaitu pentingnya struktur bidang studi, kesiapan, intuisi dan motivasi.
4. Menurut Bruner cara menyajikan pelajaran harus disesuaikan dengan derajat berfikir anak. Ada tiga tahap berfikir anak yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik.
5. Ada dua pendekatan model belajar Bruner yaitu bahwa perolehan pengetahuan merupakan proses interaktif dan orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan informasi yang tersimpan yang telah diterima sebelumnya.
6. Belajar bermakna adalah belajar yang disertai dengan pengertian. Belajar bermakna ini akan terjadi apabila informasi baru yang diterimanya mempunyai hubungan dengan konsep yang sudah ada dan diterima oleh siswa.

MODEL PEMBELAJARAN ROBERT GAGNE DAN MODEL “PERKEMBANGAN INTELEKTUAL” OLEH JEAN PIAGET

Robert Gagne (1977; Gagne & Driscoll, 1988) adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang telah memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya adalah teori Pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami belajar Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan (discovery) atau proses penerimaan (reception) sebagaimana yang dikenalkan oleh Bruner dan Ausubel, menurutnya yang terpenting adalah kualitas, penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Menurut Gagne ada 9 tahap pengolahan (proses) kognitif yang terjadi dalam belajar yang kemudian disebut “fase-fase belajar”. Fase-fase belajar ini kemudian digolongkan ke dalam (1) Fase persiapan untuk belajar, (2) Fase perolehan dan perbuatan, dan (3) Alih belajar. Fase-fase belajar ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan digunakan secara berlainan pada ragam belajar yang berlainan pula.
Bagaimana hubungan antara fase-fase belajar dan sembilan peristiwa pembelajaran, dapat dilihat melalui diagram di bawah ini :

Fase Belajar Peristiwa Pembelajaran

1. Memberi Perhatian

2. Menjelaskan tujuan belajar
pada siswa

3. Merangsang ingatan

4. Menyajikan materi
perangsang

5. Memberikan bimbingan
belajar

6. Menampilkan kemampuan

7. Memberi umpan balik
8. Menilai kemampuan

9. Meningkatkan retensi dan
transfer.

1. Membangkitkan perhatian. Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar siswa mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran.
2. Memberitahukan Tujuan Pembelajaran pada siswa. Agar siswa mempunyai pengharapan dan tujuan selama belajar maka pada siswa perlu dijelaskan tujuan apa saja yang akan dicapai selama pembelajaran dan jelaskan pula manfaat dari materi yang akan dipelajari bagi siswa dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran.
3. Merangsang ingata pada materi prasyarat. Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajaran guru perlu mengingatkan siswa tentang materi apa saja yang telah dikuasai sehubungan dengan materi yang akan diajarkan.
4. Menyajikan bahan perangsang. Menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci.
5. Memberi bimbingan belajar. Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus dicapainya pada akhir pelajaran.
6. Menampilkan unjuk kerja. Untuk mengetahui apakah siswa telah mencapai kemampuan yang diharapkan maka mintalah siswa untuk menampilkan kemampuannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru.
7. Memberikan umpan balik. Memberi umpan balik merupakan fase belajar yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik umpan balik diberikan secara informatif dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai siswa.
8. Menilai unjuk kerja. Merupakan peristiwa pembelajaran yang bertujuan untuk menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum.
9. Meningkatkan retensi. Peristiwa pembelajaran terakhir yang harus dilakukan guru adalah berupaya untuk meningkatkan retensi dan alih belajar.

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif
Menurut Jean Piaget perkembangan kognitif (kecerdasan) anak dibagi menjadi empat tahap yaitu tahap sensori motor, pre-operasional, konkrit operasional dan formal operasional. Tahapan ini hendaknya tidak dipandang sebagai hal yang statis. Setiap harinya perkembangan mental anak mengalami kemajuan sesuai dengan kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kematangan dan pengalaman yang cukup memungkinkan anak dapat mengembangkan struktur mental untuk menghadapi situasi yang dihadapi dengan cara yang lebih baik.
1. Tahap sensory-motor yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0 – 2 tahun.
2. Tahap pre-operasional yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2 – 7 tahun.
3. Tahap konkrit operasional, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada usia 7 sampai 11 tahun di mana seorang anak sudah mulai melakukan operasi.
4. Tahap Formal Operasi, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada usia 11 sampai 15 tahun, di mana anak mulai dapat berfikir pra operasional.

KESIMPULAN

Menurut Robert Gagne, belajar bukan merupakan proses yang tunggal melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, di mana tingkah laku merupakan hasil dari efek kumulatif dari belajar. Ia mendefinisikan belajar sebagai “Perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan”.
Menurut Jean Piaget, hakikat pengetahuan adalah interaksi yang terus menerus antara individu dan lingkungan.
Tahap perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui empat tahap yaitu taha sensory-motor, pre-operasional, konkrit operasional dan tahap formal operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bigge, Morris L., Hunt, Maurice P., 1980. Psychological Foundation of Education. An Introduction to Human Motivation, Development and Learning. New York Hagerstown, Philadelphia, San Francisco, London.

Suharsono, Naswan. Tiga Alternatif Pendekatan Pembelajarn : Tinjauan dari sudut pandang psikologi. Jurnal Teknologi Pembelajaran, Teori dan Penelitian No. 1-2, Oktober 1994. PPS IKIP Malang.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s